<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Cahkalitan's spirt fo java</title>
	<atom:link href="http://cahkalitan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cahkalitan.wordpress.com</link>
	<description>spirt fo java</description>
	<lastBuildDate>Wed, 30 Dec 2009 20:55:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='cahkalitan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Cahkalitan's spirt fo java</title>
		<link>http://cahkalitan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://cahkalitan.wordpress.com/osd.xml" title="Cahkalitan&#039;s spirt fo java" />
	<atom:link rel='hub' href='http://cahkalitan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Keris Mpu Gandring</title>
		<link>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/31/keris-mpu-gandring/</link>
		<comments>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/31/keris-mpu-gandring/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 20:55:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cahkalitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keris Tangguh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahkalitan.wordpress.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Keris Mpu Gandring adalah senjata pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya Kerajaan Singhasari di daerah Malang, Jawa Timur sekarang. Keris ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Singasari termasuk pendiri dan pemakainya, ken Arok. Keris ini dibuat oleh seorang pandai besi yang dikenal sangat sakti yang bernama Mpu Gandring, atas pesanan Ken [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=227&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Keris Mpu Gandring</strong> adalah senjata pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya <a title="Kerajaan Singhasari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Singhasari">Kerajaan Singhasari</a> di daerah <a title="Malang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Malang">Malang</a>, <a title="Jawa Timur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur">Jawa Timur</a> sekarang. Keris ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Singasari termasuk pendiri dan pemakainya, <a title="Ken Arok" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ken_Arok">ken Arok</a>.</p>
<p>Keris ini dibuat oleh seorang pandai besi yang dikenal sangat sakti yang bernama <a title="Mpu Gandring" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mpu_Gandring">Mpu Gandring</a>, atas pesanan Ken Arok, salah seorang tokoh penyamun yang menurut seorang <a title="Brahmana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Brahmana">brahmana</a> bernama <a title="Lohgawe (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lohgawe&amp;action=edit&amp;redlink=1">Lohgawe</a> adalah titisan wisnu. Ken Arok memesan keris ini kepada Mpu Gandring dengan waktu satu malam saja, yang merupakan pekerjaan hampir mustahil dilakukan oleh para &#8220;<em>mpu</em>&#8221; (gelar bagi seorang pandai logam yang sangat sakti) pada masa itu. Namun Mpu Gandring menyanggupinya dengan kekuatan gaib yang dimilikinya. Bahkan kekuatan tadi &#8220;<em>ditransfer</em>&#8221; kedalam keris buatannya itu untuk menambah kemampuan dan kesaktian keris tersebut.</p>
<p>Setelah selesai menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna bahkan memiliki kemampuan supranatural yang konon dikatakan melebihi keris pusaka masa itu. Mpu Gandring menyelesaikan pekerjaannya membuat sarung keris tersebut. Namun belum lagi sarung tersebut selesai dibuat, Ken Arok datang mengambil keris tersebut yang menurutnya sudah satu hari dan haris diambil. Kemudian Ken Arok menguji Keris tersebut dan terakhir Keris tersebut ditusukkannya pada Mpu Gandring yang konon menurutnya tidak menepati janji (karena sarung keris itu belum selesai dibuat) selebihnya bahkan dikatakan untuk menguji kemampuan keris tersebut melawan kekuatan supranatural si pembuat keris (yang justru disimpan dalam keris itu untuk menambah kemampuannya). Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok. Dalam perjalanannya, keris ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan elit kerajaan Singhasari yakni :</p>
<h2>Terbunuhnya Tunggul Ametung</h2>
<p>Tunggul Ametung, kepala daerah <a title="Tumapel" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tumapel">Tumapel</a> (cikal bakal Singhasari) yang saat itu adalah bawahan dari <a title="Kerajaan Kadiri" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kadiri">Kerajaan Kadiri</a> yang saat itu diperintah oleh <a title="Kertajaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kertajaya">Kertajaya</a> yang bergelar &#8220;<em>Dandang Gendis</em>&#8221; (raja terakhir kerajaan ini). Tumapel sendiri adalah pecahan dari sebuah kerajaan besar yang dulunya adalah <a title="Kerajaan Jenggala" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Jenggala">Kerajaan Jenggala</a> yang dihancurkan Kadiri, dimana kedua-duanya awalnya adalah satu wilayah yang dipimpin oleh <a title="Airlangga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Airlangga">Airlangga</a>.</p>
<p>Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk mendapatkan istrinya yang cantik, <a title="Ken Dedes" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ken_Dedes">Ken Dedes</a>. Ken Arok sendiri saat itu adalah pegawai kepercayaan dari Tunggul Ametung yang sangat dipercaya. Latar belakang pembunuhan ini adalah karena Ken Arok mendengar dari Brahmana Lohgawe bahwa &#8220;<em>barang siapa yang memperistri Ken Dedes akan menjadi Raja Dunia</em>&#8220;.</p>
<p>Sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, keris ini dipinjamkan kepada rekan kerjanya, yang bernama <a title="Kebo Ijo (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kebo_Ijo&amp;action=edit&amp;redlink=1">Kebo Ijo</a> yang tertarik dengan keris itu dan selalu dibawa-bawanya kemana mana untuk menarik perhatian umum. Bagi Ken Arok sendiri, peminjaman keris itu adalah sebagai siasat agar nanti yang dituduh oleh publik Tumapel adalah Kebo Ijo dalam kasus pembunuhan yang dirancang sendiri oleh Ken Arok. Siasatnya berhasil dan hampir seluruh publik Tumapel termasuk beberapa pejabat percaya bahwa Kebo Ijo adalah tersangka pembunuhan Tunggul Ametung. Ken Arok yang saat itu adalah orang kepercayaan Tunggul Ametung langsung membunuh Kebo Ijo yang konon, dengan keris pusaka itu.</p>
<h2>Terbunuhnya Ken Arok</h2>
<p>Setelah membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok mengambil jabatannya, memperistri Ken Dedes yang saat itu sedang mengandung dan memperluas pengaruh Tumapel sehingga akhirnya mampu menghancurkan Kerajaan Kediri. Ken Arok sendiri akhirnya mendirikan kerajaan Singhasari.</p>
<p>Rupanya kasus pembunuhan ini tercium oleh Anusapati, anak Ken Dedes dengan ayah Tunggul Ametung. Anusapati, yang diangkat anak oleh Ken Arok mengetahui semua kejadian itu dari ibunya, Ken Dedes dan bertekat untuk menuntut balas. Anusapati akhirnya merancang pembalasan pembunuhan itu dengan menyuruh seorang pendekar sakti kepercayaannya, Ki Pengalasan.</p>
<p>Pada saat menyendiri di kamar pusaka kerajaan, Ken Arok mengamati pusaka kerajaan yang dimilikinya. Salah satu pusaka yang dimilikinya adalah keris tanpa sarung buatan Mpu Gandring yang dikenal sebagai Keris Mpu Gandring. Melihat ceceran darah pada keris tersebut, ia merasa ketakutan terlebih lebih terdengar suara ghaib dari dalam keris tersebut yang meminta tumbal. Ia ingat kutukan Mpu Gandring yang dibunuhnya, dan serta merta mebantingnya ke tanah sampai hancur berkeping-keping. Ia bermaksud memusnahkannya. Namun ternyata keris tersebut melayang dan menghilang. Sementara Anusapati dan Ki Pengalasan merancang pembunuhan tersebut, tiba-tiba keris tersebut berada di tangan Anusapati. Anusapati menyerahkan keris kepada Ki Pengalasan yang menurut bahasa sekarang, bertugas sebagai &#8220;<em>eksekutor</em>&#8221; terhadap Ken Arok. Tugas itu dilaksanakannya, dan untuk menghilangkan jejak, Anusapati membunuh Ki Pengalasan dengan keris itu.</p>
<h2>Terbunuhnya Anusapati</h2>
<p>Anusapati mengambil alih pemerintahan Ken Arok, namun tidak lama. Karena <a title="Tohjaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tohjaya">Tohjaya</a>, Putra Ken Arok dari <a title="Ken Umang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ken_Umang">Ken Umang</a> akhirnya mengetahui kasus pembunuhan itu. Dan Tohjaya pun menuntut balas.</p>
<p>Tohjaya mengadakan acara Sabung Ayam kerajaan yang sangat digemari Anusapati. Ketika Anusapati lengah, Tohjaya mengambil keris Mpu Gandring tersebut dan langsung membunuhnya di tempat. Tohjaya membunuhnya berdasarkan hukuman dimana Anusapati diyakini membunuh Ken Arok. Setelah membunuh Anusapati, Tohjaya mengangkat dirinya sebagai raja menggantikan Anusapati.</p>
<p>Tohjaya sendiri tidak lama memerintah. Muncul berbagai ketidak puasan baik dikalangan rakyat dan bahkan kalangan elit istana yang merupakan keluarganya dan saudaranya sendiri, diantaranya <a title="Mahisa Campaka" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mahisa_Campaka">Mahisa Campaka</a> dan <a title="Dyah Lembu Tal" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dyah_Lembu_Tal">Dyah Lembu Tal</a>. Ketidakpuasan dan intrik istana ini akhirnya berkobar menjadi peperangan yang menyebabkan tewasnya Tohjaya. Setelah keadaan berhasil dikuasai, tahta kerajaan akhirnya dilanjutkan oleh <a title="Ranggawuni" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ranggawuni">Ranggawuni</a> yang memerintah cukup lama dan dikatakan adalah masa damai kerajaan Singashari. Sejak terbunuhnya Tohjaya, Keris Mpu Gandring hilang tidak diketahui rimbanya.</p>
<h2>7 Turunan Ken Arok</h2>
<p>Keris Mpu Gandring ini menurut beberapa sumber spritual sebenarnya tidak hilang. Dalam arti hilang musnah dan benar-benar tidak ketahuan keberadaannya. Pada bagian ini tak hendak membahas masalah itu. Pada bagian ini hendak mengajak para pembaca untuk sejenak menganalisa &#8220;keampuahan&#8221; atau &#8220;tuah&#8221; dari keris itu maupun pembuatnya (Mpu Gandring).</p>
<p>Di akhir hayatnya di ujung keris buatannya sendiri, Mpu Gandring mengutuk Ken Arok, bahwa keris itu akan menelan korban tujuh turunan dari Ken Arok. Sekarang marilah kita hitung. Dalam sejarah ataupun legenda yang kita ketahui, ternyata &#8220;hanya&#8221; ada 6 (enam) orang yang terbunuh oleh Keris Mpu Gandring. Yaitu : 1. Mpu Gandring, Sang Pembuat Keris. 2. Kebo Ijo, rekan Ken Arok. 3. Tunggul Ametung, Penguasa Tumapel pada saat itu. 4. Ken Arok, Pendiri Kerajaan Singasari. 5. Anusapati, Anak Ken Dedes yang membunuh Ken Arok. 6. Tohjaya, Anak Ken Arok dengan Ken Umang.</p>
<p>Dari daftar itu, ternyata &#8220;hanya&#8221; enam orang yang terbunuh dengan Keris Mpu Gandring. Itu pun hanya 1 (keturunan) dari Ken Arok yang dibunuh dengan Keris Mpu Gandring. Jika Ken Arok &#8220;dianggap&#8221; yang termasuk dalam daftar 7 orang yang &#8220;terkutuk&#8221;, maka baru ada 2 (dua) orang dari trah Ken Arok yang terbunuh dengan Keris Mpu Gandring. Sedangkan daftar lainnya bukanlah sanak kadang dari Ken Arok itu sendiri. Nah, jika &#8220;tuah&#8221; kutukan Sang Mpu benar-benar manjur. Maka kita harus mulai menelusuri silsilah keluarga besar kita. Jangan-jangan masih termasuk dalam &#8220;trah&#8221; (Keluarga Besar Keturunan Ken Arok) yang kita tahu &#8220;baru&#8221; 1 orang keturunan dari Ken Arok yang terbunuh dengan keris itu. Atau paling tidak ada dua, jika Ken Arok termasuk didalamnya. Atau bisa jadi Kutukan Sang Mpu tidak hanya termasuk dalam 7 orang keturunan Ken Arok, tapi 7 orang saja dan itu bisa siapa saja. Namun demikian kita tetap harus berhati-hati, karena keris itu belum lengkap memakan 7 nyawa manusia, alias masih ada 1 orang lagi yang menunggu giliran untuk terbunuh dengan Keris Mpu Gandring. Atau kita berharap saja agar Mpu Gandring tidaklah &#8220;se-ampuh&#8221; legendanya, terbukti dengan gagalnya memenuhi tenggat waktu pembuatan keris pesanan Ken Arok.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahkalitan.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahkalitan.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahkalitan.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahkalitan.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahkalitan.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahkalitan.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahkalitan.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahkalitan.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahkalitan.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahkalitan.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahkalitan.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahkalitan.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahkalitan.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahkalitan.wordpress.com/227/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=227&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/31/keris-mpu-gandring/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89d2b02c0a9c4cf2c532a320d7320256?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cahkalitan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keris Pusaka Nagasasra Sabuk Inten</title>
		<link>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/31/keris-pusaka-nagasasra-sabuk-inten/</link>
		<comments>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/31/keris-pusaka-nagasasra-sabuk-inten/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 20:52:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cahkalitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keris Tangguh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahkalitan.wordpress.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[Kyai Setan Kober adalah nama keris milik Adivasi Jipang, Arya Penangsang. Keris ini dikenakan pada waktu ia perang tanding melawan Sutawijaya. Suatu saat tombak Kyai Pleret yang dipakai Sutawijaya mengenai lambung Arya Penangsang, hingga ususnya terburai. Arya Penangsang dengan sigap, menyangkutkan buraian ususnya itu pada wrangka atau sarung-hulu keris yang terselip di pinggangnya, dan terus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=225&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kyai Setan Kober</strong> adalah nama <a title="Keris" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keris">keris</a> milik <a title="Adipati" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Adipati">Adivasi</a> <a title="Jipang (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jipang&amp;action=edit&amp;redlink=1">Jipang</a>, <a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang">Arya Penangsang</a>. Keris ini dikenakan pada waktu ia perang tanding melawan <a title="Sutawijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sutawijaya">Sutawijaya</a>.</p>
<p>Suatu saat <a title="Tombak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tombak">tombak</a> <a title="Kyai Pleret (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kyai_Pleret&amp;action=edit&amp;redlink=1">Kyai Pleret</a> yang dipakai <a title="Sutawijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sutawijaya">Sutawijaya</a> mengenai lambung <a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang">Arya Penangsang</a>, hingga ususnya terburai.</p>
<p><a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang">Arya Penangsang</a> dengan sigap, menyangkutkan buraian ususnya itu pada <a title="Wrangka (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wrangka&amp;action=edit&amp;redlink=1">wrangka</a> atau sarung-hulu keris yang terselip di pinggangnya, dan terus bertempur. Saat berikutnya , Sutawijaya terdesak hebat dan kesempatan itu digunakan oleh <a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang">Arya Penangsang</a> untuk segera penuntaskan perang tanding tersebut, dengan mencabut keris dari dalam wrangka atau <em>ngliga</em> keris (menghunus), dan tanpa sadar bahwa <a title="Wilah(an) (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wilah%28an%29&amp;action=edit&amp;redlink=1">wilah(an)</a> atau mata keris <a title="Kyai" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kyai">Kyai</a> <a title="Setan Kober (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Setan_Kober&amp;action=edit&amp;redlink=1">Setan Kober</a> langsung memotong ususnya yang disangkutkan di bagian wrangkanya. Ia tewas seketika.</p>
<p>Sutawijaya terkesan menyaksikan betapa gagahnya <a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang">Arya Penangsang</a> dengan usus terburai yang menyangkut pada hulu kerisnya. Ia lalu memerintahkan agar anak laki-lakinya, kalau kelak menikah meniru Arya Penangsang, dan menggantikan buraian usus dengan rangkaian atau <em>ronce</em> bunga <a title="Melati" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Melati">melati</a>, dengan begitu maka pengantin pria akan tampak lebih gagah, dan tradisi tersebut tetap digunakan hingga saat ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahkalitan.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahkalitan.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahkalitan.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahkalitan.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahkalitan.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahkalitan.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahkalitan.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahkalitan.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahkalitan.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahkalitan.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahkalitan.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahkalitan.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahkalitan.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahkalitan.wordpress.com/225/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=225&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/31/keris-pusaka-nagasasra-sabuk-inten/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89d2b02c0a9c4cf2c532a320d7320256?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cahkalitan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keris Taming Sari</title>
		<link>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/31/keris-taming-sari/</link>
		<comments>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/31/keris-taming-sari/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 20:50:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cahkalitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keris Tangguh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahkalitan.wordpress.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[Keris Taming Sari adalah keris yang dipunyai oleh Taming Sari Di ceritakan pemilik asal keris ini adalah merupakan pendekar atau hulubalang kerajaan mahajapahit yang bernama Taming Sari. Keris ini kemudianya bertukar tangan kepada hulubalang melaka yang telah berjaya membunuh taming sari bernama Hang Tuah. Menurut cerita yang di ceritakan kejadian ini berlaku pada zaman kesultanan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=223&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Keris Taming Sari</strong> adalah keris yang dipunyai oleh Taming Sari</p>
<p>Di ceritakan pemilik asal keris ini adalah merupakan pendekar atau hulubalang kerajaan mahajapahit yang bernama Taming Sari. Keris ini kemudianya bertukar tangan kepada hulubalang melaka yang telah berjaya membunuh taming sari bernama Hang Tuah.</p>
<p>Menurut cerita yang di ceritakan kejadian ini berlaku pada zaman kesultanan melaka di bawah pemerintahan sultan muzafar shah . Yang mana sultan tersebut telah berkahwin dengan seorang anak perempuan raja mahajapahit. Angkatan melaka telah berkunjung ke majapahit bersama &#8211; sama dengan para pembesar dan hulubalang melaka yang terdiri dari Hang Tuah ,Hang Jebat , Hang Lekiu, Hang Kasturi dan Hang Lekir.</p>
<p>Ketika sambutan kepada sultan tersebut perbagai persembahan di sembahkan dan akhir sekali Taming sari meminta kebenaran kepada raja mahajapahit untuk mencabar hulubalang melaka bermain keris. Cabaran tersebut di terima oleh Hang Tuah dan berlakulah babak permainan dan bertikam keris. kedua &#8211; dua pendekar nampak sama hebat dan gagah &#8230; namun pada satu ketikan hang tuah berjaya menikan taming sari dengan keris nya &#8230; tetapi tidak lut atau kebal .</p>
<p>maka hang tuah berasakan bahawa kekebalan taming sari adalah di sebabkan kesaktian yang ada pada kerisnya lalu hang tuah berusaha merampas keris itu. ketika di dalam pertempuran itu hang tuah berjaya membuat helah yang menyebabkan keris taming sari terlekat ke dinding lalu ia merampasnya.</p>
<p>namun adalah pantang membunuh musuh yang tidak bersenjata lalu di berikan keris beliau kepada taming sari dan di pendekkan cerita hang tuah berjaya menikan taming sari lalu mati. Lalu keris itu telah di hadiahkan kepada hang tuah oleh raja mahajapahitt.</p>
<p>keris ini juga terbabit di dalam mebunuh hang jebat yang membalas dendam akibat hukuman bunuh oleh sultan kepada hang tuah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahkalitan.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahkalitan.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahkalitan.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahkalitan.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahkalitan.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahkalitan.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahkalitan.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahkalitan.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahkalitan.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahkalitan.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahkalitan.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahkalitan.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahkalitan.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahkalitan.wordpress.com/223/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=223&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/31/keris-taming-sari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89d2b02c0a9c4cf2c532a320d7320256?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cahkalitan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keris</title>
		<link>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/31/keris/</link>
		<comments>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/31/keris/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 20:48:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cahkalitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keris Tangguh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahkalitan.wordpress.com/?p=221</guid>
		<description><![CDATA[Keris adalah senjata tikam khas Indonesia. Berdasarkan dokumen-dokumen purbakala, keris dalam bentuk awal telah digunakan sejak abad ke-9. Kuat kemungkinannya bahwa keris telah digunakan sebelum masa tersebut. Menteri Kebudyaan Indonesia, Jero Wacik telah membawa keris ke UNESCO dan meminta jaminan bahwa ini adalah warisan budaya Indonesia. Penggunaan keris sendiri tersebar di masyarakat rumpun Melayu. Pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=221&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Keris</strong> adalah <a title="Senjata tikam (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Senjata_tikam&amp;action=edit&amp;redlink=1">senjata tikam</a> khas <a title="Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia">Indonesia</a>. Berdasarkan dokumen-dokumen purbakala, keris dalam bentuk awal telah digunakan sejak abad ke-9. Kuat kemungkinannya bahwa keris telah digunakan sebelum masa tersebut. Menteri Kebudyaan Indonesia, Jero Wacik telah membawa keris ke UNESCO dan meminta jaminan bahwa ini adalah warisan budaya Indonesia.</p>
<p>Penggunaan keris sendiri tersebar di masyarakat rumpun <a title="Melayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Melayu">Melayu</a>. Pada masa sekarang, keris umum dikenal di daerah <a title="Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia">Indonesia</a> (terutama di daerah <a title="Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa">Jawa</a>, <a title="Madura" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Madura">Madura</a>, <a title="Bali" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bali">Bali</a>/<a title="Lombok" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lombok">Lombok</a>, <a title="Sumatra" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatra">Sumatra</a>, sebagian <a title="Kalimantan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan">Kalimantan</a>, serta sebagian <a title="Sulawesi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi">Sulawesi</a>), <a title="Malaysia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Malaysia">Malaysia</a>, <a title="Brunei" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Brunei">Brunei</a>, <a title="Thailand" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Thailand">Thailand</a>, dan <a title="Filipina" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Filipina">Filipina</a> (khususnya di daerah <a title="Mindanao" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mindanao">Mindanao</a>). Di <a title="Mindanao" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mindanao">Mindanao</a>, bentuk senjata yang juga disebut keris tidak banyak memiliki kemiripan meskipun juga merupakan senjata tikam.</p>
<p>Keris memiliki berbagai macam bentuk, misalnya ada yang bilahnya berkelok-kelok (selalu ber<a title="Bilangan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bilangan">bilang</a> ganjil) dan ada pula yang berbilah lurus. Orang Jawa menganggap perbedaan bentuk ini memiliki efek esoteri yang berbeda.</p>
<p>Selain digunakan sebagai <a title="Senjata" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Senjata">senjata</a>, keris juga sering dianggap memiliki <a title="Kekuatan supranatural (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kekuatan_supranatural&amp;action=edit&amp;redlink=1">kekuatan supranatural</a>. Senjata ini sering disebut-sebut dalam berbagai legenda tradisional, seperti <a title="Keris Mpu Gandring" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keris_Mpu_Gandring">keris Mpu Gandring</a> dalam legenda <a title="Ken Arok" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ken_Arok">Ken Arok</a> dan <a title="Ken Dedes" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ken_Dedes">Ken Dedes</a>.</p>
<p>Tata cara penggunaan keris berbeda-beda di masing-masing daerah. Di daerah <a title="Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa">Jawa</a> dan <a title="Sunda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda">Sunda</a> misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang pada masa damai tetapi ditempatkan di depan pada masa perang. Sementara itu, di Sumatra, Kalimantan, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan.</p>
<p>Selain keris, masih terdapat sejumlah senjata tikam lain di wilayah Nusantara, seperti <a title="Rencong" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rencong">rencong</a> dari <a title="Aceh" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Aceh">Aceh</a>, <a title="Badik (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Badik&amp;action=edit&amp;redlink=1">badik</a> dari <a title="Sulawesi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi">Sulawesi</a> serta <a title="Kujang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kujang">kujang</a> dari <a title="Jawa Barat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Barat">Jawa Barat</a>. Keris dibedakan dari senjata tikam lain terutama dari bilahnya. Bilah keris tidak dibuat dari logam tunggal yang dicor tetapi merupakan campuran berbagai logam yang berlapis-lapis. Akibat teknik pembuatan ini, keris memiliki kekhasan berupa <a title="Pamor keris (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pamor_keris&amp;action=edit&amp;redlink=1">pamor</a> pada bilahnya.</p>
<h2>Bagian-bagian keris</h2>
<p><em>Beberapa istilah di bagian ini diambil dari tradisi Jawa, semata karena rujukan yang tersedia.</em></p>
<p>Sebagian ahli <a title="Tosan aji (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tosan_aji&amp;action=edit&amp;redlink=1">tosan aji</a> mengelompokkan keris sebagai senjata tikam, sehingga bagian utama dari sebilah keris adalah <strong>wilah</strong> (bilah) atau bahasa awamnya adalah seperti mata pisau. Tetapi karena keris mempunyai kelengkapan lainnya, yaitu <strong>warangka</strong> (sarung) dan bagian <strong>pegangan keris</strong> atau ukiran, maka kesatuan terhadap seluruh kelengkapannya disebut <strong>keris</strong>.</p>
<p><strong>Pegangan keris atau hulu keris</strong></p>
<p>Pegangan keris (bahasa Jawa: <em>gaman</em>) ini bermacam-macam motifnya, untuk keris <a title="Bali" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bali">Bali</a> ada yang bentuknya menyerupai patung dewa, patung <a title="Pedande (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pedande&amp;action=edit&amp;redlink=1">pedande</a>, patung raksaka, patung penari , pertapa, hutan ,dan ada yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia.</p>
<dl>
<dd>Pegangan keris <a title="Sulawesi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi">Sulawesi</a> menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut, sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang digunakan pada keris <a title="Riau" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Riau">Riau</a> Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji seperti <a title="Aceh" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Aceh">Aceh</a>, Bangkinang (Riau) , <a title="Palembang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Palembang">Palembang</a>, <a title="Sambas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sambas">Sambas</a>, <a title="Kutai" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kutai">Kutai</a>, <a title="Bugis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bugis">Bugis</a>, <a title="Luwu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Luwu">Luwu</a>, <a title="Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa">Jawa</a>, <a title="Madura" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Madura">Madura</a> dan <a title="Sulu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sulu">Sulu</a>, keris mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu.</dd>
</dl>
<dl>
<dd>Untuk pegangan keris Jawa, secara garis besar terdiri dari <em>sirah wingking</em> ( kepala bagian belakang ) , <em>jiling, cigir, cetek, bathuk</em> (kepala bagian depan) ,<em>weteng</em> dan <em>bungkul</em>.</dd>
</dl>
<ul>
<li><strong>Warangka atau sarung keris</strong></li>
</ul>
<p>Warangka, atau sarung keris (bahasa Banjar : <em>kumpang</em>), adalah komponen keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara langsung. Warangka yang mula-mula dibuat dari <a title="Kayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kayu">kayu</a> (yang umum adalah <a title="Jati" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jati">jati</a>, <a title="Cendana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cendana">cendana</a>, <a title="Timoho (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Timoho&amp;action=edit&amp;redlink=1">timoho</a>, dan <a title="Kemuning (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kemuning&amp;action=edit&amp;redlink=1">kemuning</a>). Sejalan dengan perkembangan zaman terjadi penambahan fungsi wrangka sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya. Bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan <a title="Gading" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gading">gading</a>.</p>
<dl>
<dd>Secara garis besar terdapat dua bentuk warangka, yaitu jenis <strong>warangka ladrang</strong> yang terdiri dari bagian-bagian : <em>angkup, lata, janggut, gandek, godong</em> (berbentuk seperti daun), <em>gandar, ri</em> serta <em>cangkring</em>. Dan jenis lainnya adalah jenis <strong>wrangka gayaman</strong> (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat <em>angkup, godong</em>, dan <em>gandek</em>.</dd>
</dl>
<dl>
<dd>Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi , misalkan menghadap raja, acara resmi keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkawinan, dll) dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk <a title="(stagen) (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=%28stagen%29&amp;action=edit&amp;redlink=1">(stagen)</a> pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang).</dd>
</dl>
<dl>
<dd><strong>Dalam perang</strong>, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman , pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana.</dd>
</dl>
<dl>
<dd>Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut <strong>gandar</strong> atau <em>antupan</em> ,maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) .</dd>
</dl>
<dl>
<dd>Karena fungsi gandar untuk membungkus , sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder yang disebut <strong>pendok</strong> . Bagian <a title="Pendok (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pendok&amp;action=edit&amp;redlink=1">pendok</a> ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah , dibuat dari logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ) , perak, emas . Untuk daerah diluar Jawa ( kalangan raja-raja <a title="Bugis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bugis">Bugis</a> , <a title="Goa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Goa">Goa</a>, <a title="Palembang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Palembang">Palembang</a>, Riau, Bali ) pendoknya terbuat dari emas , disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian.</dd>
</dl>
<dl>
<dd>Untuk keris Jawa , menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1) <em>pendok bunton</em> berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya , (2) <em>pendok blewah</em> (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat , serta (3) <em>pendok topengan</em> yang belahannya hanya terletak di tengah . Apabila dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).</dd>
</dl>
<ul>
<li><strong>Wilah</strong></li>
</ul>
<dl>
<dd><a title="Wilah (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wilah&amp;action=edit&amp;redlink=1">Wilah</a> atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris, dan juga terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang biasanya disebut <a title="Dapur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dapur">dapur</a>, atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa disebutkan dapur <em>jangkung mayang</em>, <em>jaka lola</em> , <em>pinarak</em>, <em>jamang murub</em>, <em>bungkul</em> , <em>kebo tedan</em>, <em>pudak sitegal</em>, dll.</dd>
</dl>
<dl>
<dd>Pada pangkal wilahan terdapat <strong>pesi</strong> , yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di daerah Jawa Timur disebut <em>paksi</em>, di Riau disebut <em>puting</em>, sedangkan untuk daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut <em>punting</em>.</dd>
</dl>
<dl>
<dd>Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut <strong>ganja</strong> (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya <em>aring</em>). Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya <a title="Tosan aji (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tosan_aji&amp;action=edit&amp;redlink=1">tosan aji</a> mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan <em>lingga</em> dan <em>yoni</em>, dimana <a title="Ganja" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ganja">ganja</a> mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Ganja ini sepintas berbentuk cecak, bagian depannya disebut <em>sirah cecak</em>, bagian lehernya disebut <em>gulu meled</em> , bagian perut disebut <em>wetengan</em> dan ekornya disebut <em>sebit ron</em>. Ragam bentuk ganja ada bermacam-macam, <em>wilut</em> , <em>dungkul</em> , <em>kelap lintah</em> dan <em>sebit rontal</em>.</dd>
</dl>
<dl>
<dd><strong>Luk</strong>, adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah , dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu <em>gasal</em> ( <strong>ganjil</strong>) dan <strong>tidak pernah genap</strong>, dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris <em>kalawija</em>, atau keris tidak lazim.</dd>
<dd>
<h2><em>Tangguh</em> keris</h2>
<p>Di bidang perkerisan dikenal pengelompokan yang disebut <em><strong>tangguh</strong></em> yang dapat berarti periode pembuatan atau gaya pembuatan. Hal ini serupa dengan misalnya dengan tari Jawa gaya Yogyakarta dan Surakarta. Pemahaman akan tangguh akan membantu mengenali ciri-ciri fisik suatu keris.</p>
<p>Beberapa tangguh yang biasa dikenal:</p>
<ul>
<li>tangguh Majapahit</li>
<li>tangguh Pajajaran</li>
<li>tangguh Mataram</li>
<li>tangguh Yogyakarta</li>
<li>tangguh Surakarta.</li>
</ul>
<h2>Sejarah</h2>
<p>Asal keris yang kita kenal saat ini masih belum terjelaskan betul. <a title="Relief" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Relief">Relief</a> <a title="Candi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Candi">candi</a> di Jawa lebih banyak menunjukkan ksatria-ksatria dengan senjata yang lebih banyak unsur India-nya.</p>
<h3>Keris Buddha dan pengaruh India-Tiongkok</h3>
<p>Kerajaan-kerajaan awal Indonesia sangat terpengaruh oleh budaya Buddha dan Hindu. Candi di Jawa tengah adalah sumber utama mengenai budaya zaman tersebut. Yang mengejutkan adalah sedikitnya penggunaan keris atau sesuatu yang serupa dengannya. Relief di Borobudur tidak menunjukkan pisau belati yang mirip dengan keris.</p>
<p>Dari penemuan arkeologis banyak ahli yang setuju bahwa proto-keris berbentuk pisau lurus dengan bilah tebal dan lebar. Salah satu keris tipe ini adalah keris milik keluarga Knaud, didapat dari Sri Paku Alam V. Keris ini relief di permukaannya yang berisi epik <a title="Ramayana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ramayana">Ramayana</a> dan terdapat tahun Jawa 1264 (<a title="1342" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1342">1342</a> Masehi), meski ada yang meragukan penanggalannya.</p>
<p>Pengaruh kebudayaan Tiongkok mungkin masuk melalui kebudayaan <em>Dongson</em> (Vietnam) yang merupakan penghubung antara kebudayaan Tiongkok dan <a title="Dunia Melayu (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dunia_Melayu&amp;action=edit&amp;redlink=1">dunia Melayu</a>. Terdapat keris sajen yang memiliki bentuk gagang manusia sama dengan belati <em>Dongson</em>.</p>
<h3>Keris &#8220;Modern&#8221;</h3>
<p>Keris yang saat ini kita kenal adalah hasil proses evolusi yang panjang. Keris modern yang dikenal saat ini adalah belati penusuk yang unik. Keris memperoleh bentuknya pada masa Majapahit (abad ke-14) dan Kerajaan Mataram baru (abad ke-17-18).</p>
<p><strong>Pemerhati</strong> dan <strong>kolektor keris</strong> lebih senang menggolongkannya sebagai &#8220;<strong>keris kuno</strong>&#8221; dan &#8220;<strong>keris baru</strong>&#8221; yang istilahnya disebut <strong>nem-neman</strong> ( muda usia atau baru ). Prinsip pengamatannya adalah &#8220;keris kuno&#8221; yang dibuat sebelum abad 19 masih menggunakan bahan bijih logam mentah yang diambil dari sumber alam-tambang-meteor ( karena belum ada pabrik peleburan bijih besi, perak, nikel dll), sehingga logam yang dipakai masih mengandung banyak jenis logam campuran lainnya, seperti bijih besinya mengandung <a title="Titanium" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Titanium">titanium</a>, <a title="Cobalt" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cobalt">cobalt</a>, <a title="Perak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perak">perak</a>, <a title="Timah putih (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Timah_putih&amp;action=edit&amp;redlink=1">timah putih</a>, <a title="Nikel" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nikel">nikel</a>, <a title="Tembaga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tembaga">tembaga</a> dll. Sedangkan keris baru ( setelah abad 19 ) biasanya hanya menggunakan bahan besi, baja dan nikel dari hasil peleburan biji besi, atau besi bekas ( per <em>sparepart</em> kendaraan, besi jembatan, besi rel kereta api dll ) yang rata-rata adalah olahan pabrik, sehingga kemurniannya terjamin atau sedikit sekali kemungkinannya mengandung logam jenis lainnya. Misalkan penelitian Haryono Arumbinang, Sudyartomo dan Budi Santosa ( sarjana nuklir <a title="BATAN Yogjakarta (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=BATAN_Yogjakarta&amp;action=edit&amp;redlink=1">BATAN Yogjakarta</a> ) pada era 1990, menunjukkan bahwa sebilah keris dengan tangguh <a title="Tuban" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tuban">Tuban</a>, dapur <a title="Tilam Upih (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tilam_Upih&amp;action=edit&amp;redlink=1">Tilam Upih</a> dan pamor <a title="Beras Wutah (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Beras_Wutah&amp;action=edit&amp;redlink=1">Beras Wutah</a> ternyata mengandung <a title="Besi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Besi">besi</a> (fe) , <a title="Arsenikum" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arsenikum">arsenikum</a> (warangan )dan Titanium (Ti), menurut peneliti tersebut bahwa keris tersebut adalah &#8220;keris kuno&#8221; , karena unsur logam titanium ,baru ditemukan sebagai unsur logam mandiri pada sekitar tahun 1940, dan logam yang kekerasannya melebihi baja namun jauh lebih ringan dari besi, banyak digunakan sebagai alat transportasi modern (pesawat terbang, pesawat luar angkasa) ataupun roket, jadi pada saat itu teknologi tersebut belum hadir di Indonesia. Titanium banyak diketemukan pada batu <a title="Meteorit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Meteorit">meteorit</a> dan pasir besi biasanya berasal dari daerah Pantai Selatan dan juga <a title="Sulawesi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi">Sulawesi</a>. Dari 14 keris yang diteliti , rata-rata mengandung banyak logam campuran jenis lain seperti <a title="Cromium (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Cromium&amp;action=edit&amp;redlink=1">cromium</a>, <a title="Stanum (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Stanum&amp;action=edit&amp;redlink=1">stanum</a>, <a title="Stibinium (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Stibinium&amp;action=edit&amp;redlink=1">stibinium</a>, <a title="Perak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perak">perak</a>, <a title="Tembaga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tembaga">tembaga</a> dan <a title="Seng" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Seng">seng</a>, sebanyak 13 keris tersebut mengandung titanium dan hanya satu keris yang mengandung <a title="Nikel" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nikel">nikel</a>.</p>
<p>Keris baru dapat langsung diketahui kandungan jenis logamnya karena para <a title="Mpu (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mpu&amp;action=edit&amp;redlink=1">Mpu</a> ( pengrajin keris) membeli bahan bakunya di toko besi, seperti besi, nikel, kuningan dll. Mereka tidak menggunakan bahan dari bijih besi mentah ( misalkan diambil dari pertambangan ) atau batu meteorit , sehingga tidak perlu dianalisis dengan <a title="Isotop radioaktif (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Isotop_radioaktif&amp;action=edit&amp;redlink=1">isotop radioaktif</a>. Sehingga kalau ada keris yang dicurigai sebagai hasil rekayasa , atau keris baru yang berpenampilan keris kuno maka penelitian akan mudah mengungkapkannya.</p>
<p>Sumber : Disarikan dari hasil Sarasehan Pameran Seni Tosan Aji, <em>Bentara Budaya Jakarta</em>, Budiarto Danujaya, Jakarta, 1996</p>
</dd>
</dl>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahkalitan.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahkalitan.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahkalitan.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahkalitan.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahkalitan.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahkalitan.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahkalitan.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahkalitan.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahkalitan.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahkalitan.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahkalitan.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahkalitan.wordpress.com/221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahkalitan.wordpress.com/221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahkalitan.wordpress.com/221/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=221&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/31/keris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89d2b02c0a9c4cf2c532a320d7320256?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cahkalitan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keris Kyai Condong Campur</title>
		<link>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/31/keris-kyai-condong-campur/</link>
		<comments>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/31/keris-kyai-condong-campur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 20:43:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cahkalitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keris Tangguh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahkalitan.wordpress.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Condong Campur adalah salah satu keris pusaka milik Kerajaan Majapahit yang banyak disebut dalam legenda dan folklor. Keris ini dikenal dengan nama Kanjeng Kyai Condong Campur. Keris ini merupakan salah satu dapur keris lurus. Panjang bilahnya sedang dengan kembang kacang, satu lambe gajah, satu sogokan di depan dan ukuran panjangnya sampai ujung bilah, sogokan belakang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=219&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Condong Campur</strong> adalah salah satu <a title="Keris" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keris">keris</a> pusaka milik <a title="Kerajaan Majapahit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Majapahit">Kerajaan Majapahit</a> yang banyak disebut dalam <a title="Legenda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Legenda">legenda</a> dan <a title="Folklor (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Folklor&amp;action=edit&amp;redlink=1">folklor</a>. Keris ini dikenal dengan nama Kanjeng Kyai Condong Campur.</p>
<p>Keris ini merupakan salah satu <a title="Dapur keris (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dapur_keris&amp;action=edit&amp;redlink=1">dapur keris</a> lurus. Panjang bilahnya sedang dengan <em>kembang kacang</em>, satu <em>lambe gajah</em>, satu <em>sogokan</em> di depan dan ukuran panjangnya sampai ujung bilah, <em>sogokan</em> belakang tidak ada. Selain itu, keris ini juga menggunakan <em>gusen</em> dan <em>lis-lis</em>-an.</p>
<p>Condong Campur merupakan suatu perlambang keinginan untuk menyatukan perbedaan. Condong berarti miring yang mengarah ke suatu titik, yang berarti keberpihakan atau keinginan. Sedangkan campur berarti menjadi satu atau perpaduan. Dengan demikian, Condong Campur adalah keinginan untuk menyatukan suatu keadaan tertentu.</p>
<h2>[<a title="Sunting bagian: Filosofi Sejarah" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keris_Kyai_Condong_Campur&amp;action=edit&amp;section=1">sunting</a>] Filosofi Sejarah</h2>
<p>Ketika <a title="Kerajaan Majapahit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Majapahit">Kerajaan Majapahit</a> sudah menjapai masa kejayaannya, terjadi banyak sekali perbedaan (<a title="Heterogenitas (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Heterogenitas&amp;action=edit&amp;redlink=1">heterogenitas</a> di negeri itu. Heteroginitas ini menyebabkan terjadinya perpecahan di masyarakat,baik dari aspek <a title="Agama" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Agama">agama</a>, <a title="Budaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya">budaya</a>, <a title="Kasta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kasta">kasta</a>, dsb. Paling tidak ada 2 golongan yang memiliki perbedaan pandangan sangat tajam pada masa itu, yaitu :</p>
<ul>
<li>Golongan pertama, yaitu golongan pemilik modal, pedagang dan pejabat.</li>
<li>Golongan kedua, yaitu golongan masyarakat bawah yang kecewa dengan kondisi yang mereka alami, seperti keterpurukan nasib, tekanan hidup dan penindasan.</li>
</ul>
<p>Dalam dunia keris, golongan pertama di atas dapat diibaratkan dengan keris dengan <a title="Dapur Keris (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dapur_Keris&amp;action=edit&amp;redlink=1">dapur</a> Sabuk Inten. Sabuk berarti ikat pinggang. Sedangkan Inten berarti intan atau permata. Dengan demikian, Sabuk Inten memvisualisasikan golongan pemilik modal yang bergelimang harta benda.</p>
<p>Golongan kedua yang disebutkan di atas adalah masyarakat kelas bawah yang kecewa, marah, terhadap keadaan. Dalam <a title="Bahasa Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa">bahasa Jawa</a>, perasaan mereka disebut <em>sengkel atine</em> atau jengkel hatinya. Dalam dunia keris, kondisi ini identik dengan keris dengan dapur Sengkelat, yang namanya diambil dari kata <em>sengkel atine</em>.</p>
<p>Dengan adanya perbedaan tersebut, diupayakan adanya persatuan dan pembauran (condong campur) antar golongan. Tetapi yang kemudian terjadi hanyalah pembauran semu di permukaan saja. Padahal sesungguhnya tidak terjadi pembauran dalam kehidupan masyarakat. Tidak berhasilnya upaya pembauran ini sesungguhnya disebabkan ketidakinginan para pemilik modal untuk melakukan pembauran tersebut dan khawatir akan terganggunya kepentingan mereka.</p>
<h2>Legenda dan mitos</h2>
<p>Konon keris pusaka ini dibuat beramai-ramai oleh seratus orang <a title="Mpu (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mpu&amp;action=edit&amp;redlink=1">mpu</a>. Bahan kerisnya diambil dari berbagai tempat. Dan akhirnya keris ini menjadi keris pusaka yang sangat ampuh tetapi memiliki watak yang jahat.</p>
<p>Dalam dunia keris muncul <a title="Mitos" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mitos">mitos</a> dan legenda yang mengatakan adanya pertengkaran antara beberapa keris. Keris <a title="Keris Pusaka Nagasastra Sabuk Inten" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keris_Pusaka_Nagasastra_Sabuk_Inten">Sabuk Inten</a> yang merasa terancam dengan adanya keris Condong Campur akhirnya memerangi Condong Campur. Dalam pertikaian tersebut, Sabuk Inten kalah. Sedangkan keris <a title="Sengkelat (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sengkelat&amp;action=edit&amp;redlink=1">Sengkelat</a> yang juga merasa sangat tertekan oleh kondisi ini akhirnya memerangi Condong Campur hingga akhirnya Condong Campur kalah dan melesat ke angkasa menjadi <a title="Lintang Kemukus (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lintang_Kemukus&amp;action=edit&amp;redlink=1">Lintang Kemukus</a>(<a title="Komet" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Komet">komet</a> atau bintang berekor), dan mengancam akan kembali ke bumi setiap 500 tahun untuk membuat huru hara, yang dalam bahasa Jawa disebut <em>ontran-ontran</em>.</p>
<h2>Kenyataan sejarah</h2>
<p>Dalam kenyataannya, masyarakat Majapahit tetap menunjukkan perpecahan, baik di masyarakat maupun di dalam istana. Pada akhirnya perpecahan tersebut menyebabkan Majapahit menjadi lemah dan akhirnya tunduk pada <a title="Kerajaan Demak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Demak">Kerajaan Demak</a>, kerajaan Islam yang baru didirikan oleh Trah Majapahit itu sendiri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahkalitan.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahkalitan.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahkalitan.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahkalitan.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahkalitan.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahkalitan.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahkalitan.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahkalitan.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahkalitan.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahkalitan.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahkalitan.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahkalitan.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahkalitan.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahkalitan.wordpress.com/219/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=219&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/31/keris-kyai-condong-campur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89d2b02c0a9c4cf2c532a320d7320256?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cahkalitan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gajah Mada</title>
		<link>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/31/gajah-mada/</link>
		<comments>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/31/gajah-mada/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 20:40:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cahkalitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[tombo stres]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/31/gajah-mada/</guid>
		<description><![CDATA[Gajah Mada adalah salah satu tokoh besar pada zaman kerajaan Majapait . Menurut berbagai kitab dari zaman Jawa Kuno, ia menjabat sebagai Patih kemudian Mahapatih Amangkubumi yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Ia terkenal dengan sumpahnya, yaitu Sumpah palapa  yang menyatakan bahwa ia tidak akan memakan Palapa sebelum berhasil menyatukan Nusantara. Di Indonesia pada masa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=218&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Gajah Mada</strong> adalah salah satu tokoh besar pada zaman kerajaan Majapait . Menurut berbagai kitab dari zaman Jawa Kuno,  ia menjabat sebagai Patih kemudian Mahapatih Amangkubumi yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Ia terkenal dengan sumpahnya, yaitu Sumpah palapa  yang menyatakan bahwa ia tidak akan memakan Palapa sebelum berhasil menyatukan Nusantara. Di Indonesia pada masa kini, ia dianggap sebagai salah satu pahlawan penting<sup> </sup>dan merupakan simbol Nasionalisme</p>
<h2>Etimologi</h2>
<p>Sempat diperdebatkan tentang arti &#8220;Gajah&#8221; pada nama Gajah Mada dikarenakan di pulau Jawa tidak ada gajah. Namun ada beberapa pendapat yang dapat memastikan arti dari &#8220;Gajah&#8221; tersebut. Ada yang mengatakan bahwa Gajah Mada berasal dari pulau Sumatra. Namun ada pula yang menyebutkan bahwa kata &#8220;Gajah&#8221; pada namanya dalam agama hindu gajah adalah binatang yang memiliki kekhususan tersendiri dan dikenal oleh penganut hindu secara luas bahkan yang tidak pernah melihat wujud gajah sekalipun. Sementara kata &#8220;Mada&#8221; dalam bahasa Minang artiya kebal. Namun dalam upacara ritual Pancamakarapuja yakni upacara memuja Bhairawa yang dilakukan oleh para penganut aliran Tantrayana yaitu cara yang dilakukan oleh umat Hindu dan Budha untuk dapat bersatu dengan dewa pada saat mereka masih hidup karena pada umumnya mereka bersatu atau bertemu dengan para dewa pada saat setelah meninggal sehingga mereka melakukan upacara jalan pintas. Yang mana Pancamakarapuja adalah upacara ritual dengan melakukan 5 hal ybang dilarang dikenal dengan 5 <em>Ma</em>:</p>
<ul>
<li><strong>Mada</strong> atau      mabuk-mabukan</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Maudra</strong> atau tarian      melelahkan hingga jatuh pingsan</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Mamsa</strong> atau makan      daging mayat dan minum darah</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Matsya</strong> atau makan      ikan gembung beracun</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Maithuna</strong> atau      bersetubuh secara berlebihan</li>
</ul>
<p>Jika arti kata &#8220;Mada&#8221; adalah mabuk-mabukan. Jika demikian, maka kemungkinan nama Gajah Mada adalah nama julukan, bukan nama asli. Ada yang mengatakan nama kecil Gajah Mada adalah Pipil.</p>
<h2>Asal-usul</h2>
<p>Tidak diketahui sumber sejarah mengenai kapan dan di mana Gajah Mada lahir. Beberapa spekulasi tentang asal Gajah Mada berdasarkan legenda nusantara adalah sebagai berikut:</p>
<p>Jawa</p>
<p>Ada yang berpendapat bahwa ia berasal dari daerah Modo (Lamongan), karena di daerah ini banyak ditemukan prasasti-prasasti yang diduga kuat peninggalan Majapahit, termasuk adanya beberapa makam kuno prajurit dan makam kuno yang diduga masyarakat setempat sebagai makam ibunda Gajah Mada, yaitu Nyai Andong Sari. Selain itu daerah ini teratur rapi, sehingga seperti suatu bekas tanah perdikan.</p>
<p>Sumatera</p>
<p>Pendapat lain meyakini bahwa Gajah Mada berasal dari Sumatera, karena menurut pakar sejarah Dr. Imran<sup> ,</sup>di dalam Bahasa Jawa tidak dikenal istilah Gajah Mada. Kata Gajah dan Mada berasal dari Bahasa Melayu (MinangKata Mada artinya berhati keras tidak mau surut sebelum cita-citanya tercapai. Itu tercermin dari sifat Gajah Mada yang dicerminkan pada Sumpah Palapanya. Nusa Tenggara Barat</p>
<p>Masyarakat Bima khususnya Dompu percaya kalau Gajah Mada berasal dari daerah ini, mengingat kemiripan dengan tokoh legenda masyarakat Dompu yaitu &#8220;ombu Mada Roo Fiko&#8221;. Ombu artinya tebal/ besar. Mada artinya mata, Roo artinya dan. Fiko artinya telinga. Jadi ditafsirkan sebagi Tuan Mada bertelinga lebar (seperti gajah). Di daerah ini juga terdapat kuburan kuno yang diyakini sebagai makam Gajah Mada. Nusa Tenggara Timur</p>
<p>Masyarakat <a title="Pulau Sawu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Sawu">Sabu</a>-<a title="Pulau Raijua" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Raijua">Raijua</a> di <a title="Nusa Tenggara Timur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nusa_Tenggara_Timur">Nusa Tenggara Timur</a> (NTT), juga meyakini bahwa <strong>Gajah Mada</strong> berasal dari daerah ini. Keyakinan tersebut dipertegas pula oleh budayawan NTT, alm. <strong>Robert Riwu Kaho</strong>, dalam karyanya yang berjudul <strong>&#8220;Orang Sabu dan Budayanya&#8221;</strong> (Jogja: Global Media, 2005). Ia mengemukakan beberapa alasan, yaitu nama Gajah Mada bukanlah nama yang lazim disandang orang <a title="Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa">Jawa</a>, karena orang Jawa akan mengucapkan nama itu <strong>Gajah Mendo</strong>. Hanya di Sabu dan Raijua saja orang menyandang nama-nama seperti <strong>Gaja</strong>, <strong>Mada</strong>, <strong>Me&#8217;do</strong>, <strong>Mo&#8217;jo</strong>, <strong>Jaka</strong>, <a title="Raja" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raja">Raja</a>, <a title="Ratu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ratu">Ratu</a>, Laki, dst. Lalu, warna <strong>&#8220;merah-putih&#8221;</strong> yang diagungkan Gajah Mada dan <a title="Majapahit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit">Majapahit</a> adalah warna &#8220;gula-kelapa&#8221; dan &#8220;air ketuban&#8221; yang menjadi lambang orang Sabu sejak zaman dahulu kala.</p>
<p>Alasan Robert Riwu Kaho di atas diperkuat pula oleh syair-syair kuno yang dilantunkan pada saat upacara-upacara adat di <a title="Namata (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Namata&amp;action=edit&amp;redlink=1">Namata</a>, yang mana ada terucap nama <strong>Gaja Med&#8217;o</strong> yang disebutkan sebagai perantau asal Sabu yang menjadi Tuan Besar di tanah Jawa dan menjadi <a title="Panglima" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Panglima">panglima</a> bala tentara <a title="Nusantara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nusantara">Nusantara</a>.</p>
<p>Di samping itu pula, ada hal lain, yaitu keputusan <a title="Majapahit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit">Majapahit</a> untuk menjadikan Sabu-Raijua sebagai pangkalan utama angkatan laut Majapahit untuk mengontrol pintu gerbang selatan Nusantara. Di samping pertimbangan strategis, tentu ada unsur psikologis yang menjadi pendorong bagi si Decision Maker (Gajah Mada). Karena harusnya ada kepulauan <a title="Rote" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rote">Rote</a> yang lebih di selatan lagi.</p>
<p>Antropolog asal NTT, <strong>Nico L. Kana</strong>, dalam bukunya berjudul <strong>&#8220;Dunia orang Sawu&#8221;</strong> (Jakarta: Sinar Harapan, 1983), pun menyinggung tentang Gajah Mada yang besar kemungkinan, memang berasal dari Sabu-Raijua.</p>
<p>Kalimantan Barat</p>
<p>Ada pula yang meyakini Gajah Mada itu merupakan orang Dayak, Kalimantan Barat, yaitu dari sebuah kampung di Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Sebagian masyarakat Dayak mempercayai hal ini berkaitan dengan kisah masyarakat Dayak Tobag, Mali, Simpang dan Dayak Krio. Tokoh Gajah Mada di Dayak Krio dikenal dengan nama Jaga Mada, namun masyarakat Dayak lainnya menyebutnya Gajah Mada. Ia dianggap merupakan salah satu Demung Adat yang diutus kerajaan Kutai untuk menjajah Nusantara termasuk Jawa.</p>
<h2>Awal karir</h2>
<p>Menurut <a title="Pararaton" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pararaton">Pararaton</a>, Gajah Mada memulai karirnya di Majapahit sebagai komandan pasukan khusus <a title="Bhayangkara (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bhayangkara&amp;action=edit&amp;redlink=1">Bhayangkara</a>. Karena berhasil menyelamatkan <a title="Jayanagara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jayanagara">Prabu Jayanagara</a> (<a title="1309" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1309">1309</a>-<a title="1328" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1328">1328</a>) dan mengatasi Pemberontakan Ra Kuti, ia diangkat sebagai Patih <a title="Kahuripan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kahuripan">Kahuripan</a> pada tahun 1319. Dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih <a title="Kediri" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kediri">Kediri</a>.</p>
<p>Pada tahun <a title="1329" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1329">1329</a>, Patih Majapahit yakni Aryo Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Ia menunjuk Patih Gajah Mada dari Kediri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui. Ia ingin membuat jasa dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan <a title="Keta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keta">Keta</a> dan Sadeng yang saat itu sedang melakukan pemberotakan terhadap Majapahit. Keta dan Sadeng pun akhirnya takluk. Akhirnya, pada tahun <a title="1334" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1334">1334</a>, Gajah Mada diangkat secara resmi oleh <a title="Tribhuwana Wijayatunggadewi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tribhuwana_Wijayatunggadewi">Ratu Tribhuwanatunggadewi</a> sebagai Patih Majapahit.</p>
<h2>Sumpah Palapa</h2>
<p>Pada waktu pengangkatannya, ia mengucapkan <a title="Sumpah Palapa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Palapa">Sumpah Palapa</a>, yang berisi bahwa ia akan menikmati <a title="Palapa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Palapa">palapa</a> atau rempah-rempah (yang diartikan kenikmatan duniawi) jika telah berhasil menaklukkan <a title="Nusantara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nusantara">Nusantara</a>. Sebagaimana tercatat dalam kitab <em><a title="Pararaton" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pararaton">Pararaton</a></em> berikut</p>
<p><a title="Perbesar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Gajah-Mada.jpg"></a></p>
<p>Sebuah arca yang diduga menggambarkan rupa Gajah Mada. Kini disimpan di museum <a title="Trowulan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Trowulan">Trowulan</a>.</p>
<p>Mojokerto.</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="20" valign="top"><strong>“</strong></td>
<td valign="top"><em>Sira Gajah Mada pepatih   amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara   ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring   Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun   amukti palapa</em></td>
<td width="20" valign="bottom"><strong>”</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Arti</p>
<p>Gajah Mada sang Mahapatih tak akan menikmati palapa, berkata Gajah Mada, &#8220;Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan <a title="Pulau Gurun (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pulau_Gurun&amp;action=edit&amp;redlink=1">Pulau Gurun</a>, <a title="Pulau Seram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Seram">Pulau Seram</a>, <a title="Kalimantan Barat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Barat">Tanjungpura</a>, <a title="Kerajaan Aru" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Aru">Pulau Haru</a>, <a title="Pahang, Malaysia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pahang,_Malaysia">Pahang</a>, <a title="Dompu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dompu">Dompu</a>, <a title="Bali" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bali">Pulau Bali</a>, <a title="Kerajaan Sunda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sunda">Sunda</a>, <a title="Palembang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Palembang">Palembang</a> dan <a title="Tumasik" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tumasik">Tumasik</a>, aku takkan mencicipi palapa.</p>
<p>Walaupun ada sejumlah (atau bahkan banyak) orang yang meragukan sumpahnya, Patih Gajah Mada memang hampir berhasil menaklukkan Nusantara. <a title="Kerajaan Bedahulu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Bedahulu">Bedahulu</a> (di <a title="Bali" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bali">Bali</a>) dan <a title="Lombok" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lombok">Lombok</a> (<a title="1343" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1343">1343</a>), <a title="Palembang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Palembang">Palembang</a>, Swarnabhumi (<a title="Sriwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sriwijaya">Sriwijaya</a>), <a title="Aceh Tamiang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Aceh_Tamiang">Tamiang</a>, <a title="Kesultanan Samudera Pasai" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Samudera_Pasai">Samudra Pasai</a>, dan negeri-negeri lain di Swarnadwipa (<a title="Sumatra" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatra">Sumatra</a>) telah ditaklukkan. Lalu Pulau <a title="Bintan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bintan">Bintan</a>, Tumasik (<a title="Singapura" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Singapura">Singapura</a>), <a title="Semenanjung Malaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Semenanjung_Malaya">Semenanjung Malaya</a>, dan sejumlah negeri di <a title="Kalimantan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan">Kalimantan</a> seperti <a title="Kabupaten Kapuas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kapuas">Kapuas</a>, <a title="Kabupaten Katingan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Katingan">Katingan</a>, <a title="Sampit, Kotawaringin Timur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sampit,_Kotawaringin_Timur">Sampit</a>, Kotalingga (<a title="Kabupaten Seruyan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Seruyan">Tanjunglingga</a>), <a title="Kotawaringin Lama, Kotawaringin Barat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kotawaringin_Lama,_Kotawaringin_Barat">Kotawaringin</a>, <a title="Kabupaten Sambas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sambas">Sambas</a>, <a title="Lawai" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lawai">Lawai</a>, <a title="Kendawangan, Ketapang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kendawangan,_Ketapang">Kendawangan</a>, <a title="Kabupaten Landak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Landak">Landak</a>, <a title="Samadang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Samadang">Samadang</a>, <a title="Tirem (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tirem&amp;action=edit&amp;redlink=1">Tirem</a>, <a title="Sibu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sibu">Sedu</a>, <a title="Brunei" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Brunei">Brunei</a>, <a title="Kota Tarakan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tarakan">Kalka</a>, <a title="Tana Tidung" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tana_Tidung">Saludung</a>, <a title="Kepulauan Sulu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Sulu">Solok</a>, <a title="Kabupaten Paser" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Paser">Pasir</a>, <a title="Kabupaten Barito Utara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Barito_Utara">Barito</a>, <a title="Pulau Sebuku, Kotabaru" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Sebuku,_Kotabaru">Sawaku</a>, <a title="Kabupaten Tabalong" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Tabalong">Tabalung</a>, <a title="Kesultanan Kutai Kartanegara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Kutai_Kartanegara">Tanjungkutei</a>, dan <a title="Suku Dayak Melanau (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Suku_Dayak_Melanau&amp;action=edit&amp;redlink=1">Malano</a>.</p>
<p>Di zaman pemerintahan <a title="Hayam Wuruk" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hayam_Wuruk">Prabu Hayam Wuruk</a> (1350-1389) yang menggantikan Tribhuwanatunggadewi, Patih Gajah Mada terus mengembangkan penaklukan ke wilayah timur seperti <a title="Bali" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bali">Logajah</a>, <a title="Gurun" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gurun">Gurun</a>, Sukun, <a title="Taliwang, Sumbawa Barat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Taliwang,_Sumbawa_Barat">Taliwung</a>, <a title="Sape, Bima" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sape,_Bima">Sapi</a>, <a title="Pulau Gunung Api" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Gunung_Api">Gunungapi</a>, <a title="Seram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Seram">Seram</a>, <a title="Karimunjawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karimunjawa">Hutankadali</a>, <a title="Lombok Timur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lombok_Timur">Sasak</a>, <a title="Bantaeng" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bantaeng">Bantayan</a>, <a title="Luwu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Luwu">Luwu</a>, <a title="Kota Makassar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Makassar">Makassar</a>, <a title="Buton" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buton">Buton</a>, <a title="Kabupaten Kepulauan Banggai" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kepulauan_Banggai">Banggai</a>, Kunir, <a title="Kangean" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kangean">Galiyan</a>, <a title="Kabupaten Selayar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Selayar">Salayar</a>, <a title="Sumba" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sumba">Sumba</a>, Muar (<a title="Saparua" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Saparua">Saparua</a>), <a title="Pulau Solor" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Solor">Solor</a>, <a title="Kota Bima" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Bima">Bima</a>, Wandan (<a title="Banda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Banda">Banda</a>), <a title="Kota Ambon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Ambon">Ambon</a>, <a title="Kabupaten Fak-fak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Fak-fak">Wanin</a>, Seran, <a title="Timor" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Timor">Timor</a>, dan <a title="Kabupaten Dompu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Dompu">Dompo</a>.</p>
<h2>Perang Bubat</h2>
<p>Dalam <em><a title="Kidung Sunda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kidung_Sunda">Kidung Sunda</a></em><sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gajah_Mada#cite_note-8">[9]</a></sup> diceritakan bahwa <a title="Perang Bubat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Bubat">Perang Bubat</a> (<a title="1357" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1357">1357</a>) bermula saat Prabu Hayam Wuruk hendak menikahi <a title="Dyah Pitaloka (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dyah_Pitaloka&amp;action=edit&amp;redlink=1">Dyah Pitaloka</a> putri <a title="Kerajaan Sunda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sunda">Sunda</a> sebagai permaisuri. Lamaran Prabu Hayam Wuruk diterima pihak Kerajaan Sunda, dan rombongan besar Kerajaan Sunda datang ke Majapahit untuk melangsungkan pernikahan agung itu. Gajah Mada yang menginginkan Sunda takluk, memaksa menginginkan Dyah Pitaloka sebagai persembahan pengakuan kekuasaan Majapahit. Akibat penolakan pihak Sunda mengenai hal ini, terjadilah pertempuran tidak seimbang antara pasukan Majapahit dan rombongan Sunda di Bubat; yang saat itu menjadi tempat penginapan rombongan Sunda. Dyah Pitaloka bunuh diri setelah ayahanda dan seluruh rombongannya gugur dalam pertempuran. Akibat peristiwa itu, Patih Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya.</p>
<p>Dalam <a title="Nagarakretagama" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nagarakretagama">Nagarakretagama</a> diceritakan hal yang sedikit berbeda. Dikatakan bahwa <a title="Hayam Wuruk" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hayam_Wuruk">Hayam Wuruk</a> sangat menghargai Gajah Mada sebagai <em>Mahamantri Agung</em> yang wira, bijaksana, serta setia berbakti kepada negara. Sang raja menganugerahkan dukuh &#8220;Madakaripura&#8221; yang berpemandangan indah di <a title="Tongas, Probolinggo" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tongas,_Probolinggo">Tongas, Probolinggo</a>, kepada Gajah Mada. Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa pada 1359, Gajah Mada diangkat kembali sebagai patih; hanya saja ia memerintah dari Madakaripura.</p>
<h2>Akhir hidup</h2>
<p>Disebutkan dalam <em><a title="Kakawin Nagarakretagama" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kakawin_Nagarakretagama">Kakawin Nagarakretagama</a></em> bahwa sekembalinya <a title="Hayam Wuruk" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hayam_Wuruk">Hayam Wuruk</a> dari upacara keagamaan di <a title="Simping" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Simping">Simping</a>, ia menjumpai bahwa Gajah Mada telah sakit. Gajah Mada disebutkan meninggal dunia pada tahun 1286 Saka atau <a title="1364" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1364">1364</a> Masehi.</p>
<p>Hayam Wuruk kemudian memilih enam Mahamantri Agung, untuk selanjutnya membantunya dalam menyelenggarakan segala urusan negara.</p>
<h2>Warisan budaya</h2>
<p><a title="Perbesar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Lukisan_Gajah_Mada.JPG"></a></p>
<p>Lukisan kontemporer Gajah Mada karya I Nyoman Astika.</p>
<p>Sebagai salah seorang tokoh utama Majapahit, nama Gajah Mada sangat terkenal di masyarakat <a title="Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia">Indonesia</a> pada umumnya. Pada masa awal kemerdekaan, para pemimpin antara lain <a title="Sukarno" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sukarno">Sukarno</a> sering menyebut sumpah Gajah Mada sebagai inspirasi dan &#8220;bukti&#8221; bahwa bangsa ini dapat bersatu, meskipun meliputi wilayah yang luas dan budaya yang berbeda-beda. Dengan demikian, Gajah Mada adalah inspirasi bagi <a title="Sejarah Indonesia (1945-1949)" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia_%281945-1949%29">revolusi nasional Indonesia</a> untuk usaha kemerdekaannya dari kolonialisme <a title="Kerajaan Belanda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Belanda">Belanda</a>.</p>
<p><a title="Universitas Gadjah Mada" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Gadjah_Mada">Universitas Gadjah Mada</a> di <a title="Yogyakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yogyakarta">Yogyakarta</a> adalah universitas negeri yang dinamakan menurut namanya. <a title="Satelit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Satelit">Satelit</a> <a title="Telekomunikasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Telekomunikasi">telekomunikasi</a> Indonesia yang pertama dinamakan <a title="Satelit Palapa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Satelit_Palapa">Satelit Palapa</a>, yang menonjolkan perannya sebagai pemersatu telekomunikasi rakyat Indonesia. Banyak kota di Indonesia memiliki jalan yang bernama Gajah Mada, namun menarik diperhatikan bahwa tidak demikian halnya dengan kota-kota di Jawa Barat.</p>
<p>Buku-buku fiksi kesejarahan dan sandiwara radio sampai sekarang masih sering menceritakan Gajah Mada dan perjuangannya memperluas kekuasaan Majapahit di nusantara dengan Sumpah Palapanya, demikian pula dengan karya seni patung, lukisan, dan lain-lainnya.</p>
<h2>Kepustakaan</h2>
<ul>
<li>Pogadaev, V. A. Gajah Mada.      The Greatest Commander of Indonesia.      Historical Lexicon. XIV –XVI Century. Vol. 1. Мoscow: Znanie, 2001,      h.245-253.</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahkalitan.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahkalitan.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahkalitan.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahkalitan.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahkalitan.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahkalitan.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahkalitan.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahkalitan.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahkalitan.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahkalitan.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahkalitan.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahkalitan.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahkalitan.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahkalitan.wordpress.com/218/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=218&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/31/gajah-mada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89d2b02c0a9c4cf2c532a320d7320256?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cahkalitan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gelar kebangsawanan Jawa</title>
		<link>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/30/gelar-kebangsawanan-jawa/</link>
		<comments>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/30/gelar-kebangsawanan-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 21:26:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cahkalitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[tombo stres]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahkalitan.wordpress.com/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Gelar kebangsawanan Jawa Gelar kebangsawanan di Indonesia pada umumnya diberikan kepada masyarakat keraton dan orang-orang di luar keraton yang dianggap berjasa kepada keraton. Seorang raja di kerajaan Mataram biasanya memiliki beberapa orang istri / selir (garwa ampeyan) dan seorang permaisuri / ratu (garwa padmi). Dari beberapa istrinya inilah raja tersebut memperoleh banyak anak lelaki dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=215&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Gelar kebangsawanan Jawa</h1>
<p>Gelar kebangsawanan di Indonesia pada umumnya diberikan kepada masyarakat <a title="Keraton" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keraton">keraton</a> dan orang-orang di luar keraton yang dianggap berjasa kepada keraton. Seorang <a title="Raja" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raja">raja</a> di <a title="Kesultanan Mataram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Mataram">kerajaan Mataram</a> biasanya memiliki beberapa orang istri / <a title="Selir (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Selir&amp;action=edit&amp;redlink=1">selir</a> (<em>garwa ampeyan</em>) dan seorang <a title="Permaisuri" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Permaisuri">permaisuri</a> / <a title="Ratu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ratu">ratu</a> (<em>garwa padmi</em>). Dari beberapa istrinya inilah raja tersebut memperoleh banyak anak lelaki dan perempuan dimana salah satu anak lelakinya akan meneruskan tahtanya dan diberi gelar <a title="Putra mahkota" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Putra_mahkota">putra mahkota</a>. Sistem pergantian kekuasaan yang diterapkan biasanya adalah <em>primogenitur</em> lelaki (<a title="Bahasa Inggris" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris">bahasa Inggris</a>: <em>male primogeniture</em>) dimana anak lelaki tertua dari permaisuri berada di urutan teratas disusul kemudian oleh anak lelaki permaisuri lainnya dan setelah itu anak lelaki para selir.</p>
<h2>Gelar Kasunanan</h2>
<p>Gelar yang dipakai di <a title="Kasunanan Surakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kasunanan_Surakarta">Kasunanan Surakarta</a>:</p>
<ul>
<li>Penguasa Kasunanan:      Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Prabu Sri Paku Buwana      Senapati ing Alaga Ngabdulrahman Sayidin Panatagama Kaping &#8230; (SISKS)</li>
<li>Permaisuri Susuhunan      Pakubuwana: Gusti Kanjeng Ratu (GKR), dengan urutan:</li>
</ul>
<ol>
<li>Ratu Kilen (Ratu      Barat)</li>
<li>Ratu Wetan (Ratu      Timur)</li>
</ol>
<ul>
<li>Selir Susuhunan      Pakubuwana: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy), dengan urutan:</li>
</ul>
<ol>
<li>Bandara Raden Ayu</li>
<li><a title="Raden Ayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Ayu">Raden Ayu</a></li>
<li>Raden</li>
<li>Mas Ayu</li>
<li>Mas Ajeng</li>
<li>Mbok Ajeng</li>
</ol>
<ul>
<li>Pewaris tahta      Kasunanan (<a title="Putra mahkota" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Putra_mahkota">putra mahkota</a>):      Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anum Amangku Negara Sudibya Rajaputra      Nalendra ing Mataram.</li>
<li>Anak lelaki selain      putra mahkota dari permaisuri ketika masih muda: Raden Mas Gusti (RMG)</li>
<li>Anak lelaki selain      putra mahkota dari permaisuri ketika sudah dewasa: Kanjeng Gusti Pangeran      (KGP), dengan urutan:</li>
</ul>
<ol>
<li>Mangku Bumi</li>
<li>Bumi Nata</li>
<li>Purbaya</li>
<li>Puger</li>
</ol>
<ul>
<li>Anak lelaki dari selir      ketika masih muda: Bendara Raden Mas (BRM)</li>
<li>Anak lelaki dari selir      ketika sudah dewasa: Bendara Kanjeng Pangeran (BKP)</li>
<li>Cucu lelaki dari garis      pria: Bendara Raden Mas (BRM)</li>
<li>Cicit lelaki dan      keturunan lelaki lain dari garis pria: <a title="Raden Mas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Mas">Raden Mas</a> (RM)</li>
<li>Anak perempuan dari      permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Raden Ajeng (GRA)</li>
<li>Anak perempuan dari      permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Raden Ayu (GRAy)</li>
<li>Anak perempuan tertua      dari permaisuri ketika sudah dewasa: Gusti Kanjeng Ratu (GKR), dengan      urutan:</li>
</ul>
<ol>
<li>Sekar-Kedhaton.</li>
<li>Pembayun.</li>
<li>Maduratna.</li>
<li>Bendara.</li>
<li>Angger.</li>
<li>Timur.</li>
</ol>
<ul>
<li>Anak perempuan dari      selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)</li>
<li>Anak perempuan dari      selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)</li>
<li>Anak perempuan tertua      dari selir ketika sudah dewasa: Ratu Alit</li>
<li>Cucu perempuan dan      keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: <a title="Raden Ajeng" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Ajeng">Raden Ajeng</a> (RA)</li>
<li>Cucu perempuan dan      keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: <a title="Raden Ayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Ayu">Raden Ayu</a> (RAy)</li>
</ul>
<h2>Gelar Kesultanan</h2>
<p>Gelar yang dipakai di <a title="Kesultanan Yogyakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Yogyakarta">Kesultanan Yogyakarta</a></p>
<ul>
<li>Penguasa Kesultanan:      Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana Senapati      ing Alaga Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng      Kaping &#8230; (yang berarti pemimpin yang menguasai dunia, komandan besar,      pelayan Tuhan, Tuan semua orang yang percaya)</li>
<li>Permaisuri Sultan <a title="Hamengkubuwono" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hamengkubuwono">Hamengkubuwana</a>: Gusti Kanjeng Ratu (GKR)</li>
<li>Selir Sultan      Hamengkubuwana: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy)</li>
<li>Pewaris tahta      Kesultanan (putra mahkota): Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anum Amangku      Negara Sudibya Rajaputra Nalendra ing Mataram</li>
<li>Anak lelaki selain      putra mahkota dari permaisuri ketika masih muda: Gusti Raden Mas (GRM)</li>
<li>Anak lelaki selain      putra mahkota dari permaisuri ketika sudah dewasa: Gusti Bendara Pangeran      Harya (GBPH)</li>
<li>Anak lelaki dari      selir ketika masih muda: Bendara Raden Mas (BRM)</li>
<li>Anak lelaki dari      selir ketika sudah dewasa: Bendara Pangeran Harya (BPH)</li>
<li>Cucu lelaki dan      keturunan lelaki lain dari garis pria: <a title="Raden Mas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Mas">Raden Mas</a> (RM)</li>
<li>Anak perempuan dari      permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Raden Ajeng (GRA)</li>
<li>Anak perempuan dari      permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Raden Ayu (GRAy)</li>
<li>Anak perempuan tertua      dari permaisuri ketika sudah dewasa: Gusti Kanjeng Ratu (GKR)</li>
<li>Anak perempuan dari      selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)</li>
<li>Anak perempuan dari      selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)</li>
<li>Cucu perempuan dan      keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: <a title="Raden Ajeng" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Ajeng">Raden Ajeng</a> (RA)</li>
<li>Cucu perempuan dan      keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: <a title="Raden Ayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Ayu">Raden Ayu</a> (RAy)</li>
</ul>
<h2>Gelar Paku Alaman</h2>
<p>Gelar yang dipakai di <a title="Kadipaten Paku Alaman" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kadipaten_Paku_Alaman">Kadipaten Paku Alaman</a> di <a title="Yogyakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yogyakarta">Yogyakarta</a></p>
<ul>
<li>Penguasa Paku      Alaman: <a title="Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kanjeng_Gusti_Pangeran_Adipati_Arya">Kanjeng      Gusti Pangeran Adipati Harya</a> Raja Paku Alam Kaping &#8230;</li>
<li>Permaisuri Raja Paku      Alam: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy)</li>
<li>Selir Raja Paku      Alam: Bendara Raden Ayu (BRAy) atau Raden Ayu (RAy)</li>
<li>Pewaris tahta Paku      Alaman (putra mahkota): Bandara Pangeran Harya Suryadilaga</li>
<li>Anak lelaki selain      putra mahkota dari permaisuri ketika masih muda: Gusti Bendara Raden Mas      (GBRM)</li>
<li>Anak lelaki selain      putra mahkota dari permaisuri ketika sudah dewasa: <a title="Kanjeng Pangeran Harya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kanjeng_Pangeran_Harya">Kanjeng Pangeran      Harya</a> (KPH)</li>
<li>Anak lelaki dari      selir ketika masih muda: Raden Mas (RM)</li>
<li>Anak lelaki dari      selir ketika sudah dewasa: Bendara Raden Harya (BRH)</li>
<li>Cucu lelaki dan      keturunan lelaki sampai generasi ketiga dari garis pria: <a title="Raden Mas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Mas">Raden Mas</a> (RM)</li>
<li>Keturunan lelaki      setelah generasi keempat lain dari garis pria: <a title="Raden" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raden">Raden</a></li>
<li>Anak perempuan dari      permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Bendara Raden Ajeng (GBRA)</li>
<li>Anak perempuan dari      permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Bendara Raden Ayu (GBRAy)</li>
<li>Anak perempuan dari      selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)</li>
<li>Anak perempuan dari      selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)</li>
<li>Cucu perempuan dan      keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: <a title="Raden Ajeng" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Ajeng">Raden Ajeng</a> (RA)</li>
<li>Cucu perempuan dan      keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: <a title="Raden Ayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Ayu">Raden Ayu</a> (RAy)</li>
</ul>
<h2>Gelar Mangkunagaran</h2>
<p>Gelar yang dipakai di <a title="Praja Mangkunagaran" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Praja_Mangkunagaran">Praja Mangkunagaran</a> di <a title="Surakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Surakarta">Surakarta</a></p>
<ul>
<li>Penguasa      Mangkunagaran: <a title="Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kanjeng_Gusti_Pangeran_Adipati_Arya">Kanjeng      Gusti Pangeran Adipati Harya</a> Mangku Negara Senapati ing Ayuda      Kaping &#8230; (KGPAA)</li>
<li>Permaisuri Raja      Mangkunagara: Kanjeng Bendara Raden Ayu (KBRAy)</li>
<li>Selir Raja Paku      Mangkunagara: Bendara Raden Ayu (BRAy) atau Raden Ayu (RAy)</li>
<li>Pewaris tahta      Mangkunagaran (putra mahkota): Pangeran Adipati Harya Prabu Prangwadana</li>
<li>Anak lelaki selain      putra mahkota dari permaisuri: Gusti Raden Mas (GRM)</li>
<li>Anak lelaki dari      selir: Bendara Raden Mas (RM)</li>
<li>Cucu lelaki dan      keturunan lelaki sampai generasi ketiga dari garis pria: <a title="Raden Mas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Mas">Raden Mas</a> (RM)</li>
<li>Keturunan lelaki      setelah generasi keempat lain dari garis pria: <a title="Raden" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raden">Raden</a></li>
<li>Anak perempuan dari      permaisuri ketika belum dinikahkan: Gusti Raden Ajeng (GRA)</li>
<li>Anak perempuan dari      permaisuri ketika sudah dinikahkan: Gusti Raden Ayu (GRAy)</li>
<li>Anak perempuan dari      selir ketika belum dinikahkan: Bendara Raden Ajeng (BRA)</li>
<li>Anak perempuan dari      selir ketika sudah dinikahkan: Bendara Raden Ayu (BRAy)</li>
<li>Cucu perempuan dan      keturunan perempuan lain dari garis pria, sebelum dinikahkan: <a title="Raden Ajeng" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Ajeng">Raden Ajeng</a> (RA)</li>
<li>Cucu perempuan dan      keturunan perempuan lain dari garis pria, sesudah dinikahkan: <a title="Raden Ayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Ayu">Raden Ayu</a> (RAy)</li>
</ul>
<h2>Gelar lain</h2>
<p>Selain beberapa gelar tersebut di atas, di lingkungan keraton sering juga dijumpai sebutan khusus seperti:</p>
<ul>
<li>Sekarkedhaton (untuk      menyebut putri sulung permaisuri)</li>
<li>Sekartaji (untuk putri      kedua)</li>
<li>Candrakirana (untuk putri      ketiga)</li>
<li>Putra tertua dari seluruh      Garwa Ampeyan bergelar Bendara Raden Mas Gusti dan akan berubah menjadi      Gusti Pangeran setelah diangkat menjadi pangeran. Sedangkan putri tertua      dari seluruh Garwa Ampeyan bergelar Bendoro Raden Ajeng Gusti dan akan      berubah menjadi Pembayun setelah menikah. Khusus untuk putri sulung      (tertua) dari Garwa Ampéyan mendapat gelar Kanjeng Ratu.</li>
</ul>
<ul>
<li>Kanjeng Radèn Ayu (KRA)</li>
<li>Kanjeng Radèn Tumenggung      Harya (KRTH)</li>
<li>Mas Radèn Tumenggung (MRT)</li>
<li>Kanjeng Radèn Tumenggung      (KRT)</li>
<li>Kanjeng Radèn Ayu (KRAy)</li>
<li>Radèn Mas Tumenggung (RMT)</li>
<li>Radèn Ngantèn (RNg)</li>
<li>Mas Ngabéi (MNg)</li>
<li>Kanjeng Pangéran (KP)</li>
</ul>
<h3>Gelar Kerajaan Kubu</h3>
<ul>
<li>Putra      Mahkota/Pangeran :</li>
</ul>
<p><em>Syarif (atau Sayyid) (nama pribadi) ibni al-Marhum Syarif (atau Sayyid) (nama bapaknya) Al-Idrus (nama marga/keluarga), Tuan Besar Kubu (aslinya: Yang di-Pertuan Besar).</em></p>
<ul>
<li>Anggota laki-laki keluarga      Kesultanan yang lain, keturunan pada garis Bapak:</li>
</ul>
<p><em>Syarif (atau Sayyid) (nama pribadi) ibni Syarif (or Sayyid) (nama bapaknya) Al-Idrus (nama marga/keluarga).</em></p>
<ul>
<li>Anggota wanita keluarga      Kesultanan, keturunan pada garis bapak:</li>
</ul>
<p><em>Syarifah (nama pribadi) binti Syarif (atau Sayyid) (nama bapaknya) Al-Idrus (nama marga/keluarga).</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahkalitan.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahkalitan.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahkalitan.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahkalitan.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahkalitan.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahkalitan.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahkalitan.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahkalitan.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahkalitan.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahkalitan.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahkalitan.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahkalitan.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahkalitan.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahkalitan.wordpress.com/215/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=215&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/30/gelar-kebangsawanan-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89d2b02c0a9c4cf2c532a320d7320256?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cahkalitan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>sejarah Ndalem Kalitan</title>
		<link>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/30/sejarah-ndalem-kalitan/</link>
		<comments>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/30/sejarah-ndalem-kalitan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 21:12:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cahkalitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[tombo stres]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahkalitan.wordpress.com/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Dalem Kalitan Surakarta: Dalem Kalitan yang menjadi tempat mantan Presiden Soeharto dan keluarganya beristirahat bila berkunjung ke Surakarta, Jawa Tengah, sempat ramai dikunjungi berbagai kalangan. Terutama ketika Pak Harto menjabat sebagai presiden. Namun, setelah penguasa Orde Baru itu lengser keprabon atau turun dari tampuk kekuasaan pada 21 Mei 1998, Dalem Kalitan menjadi sepi pengunjung, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=213&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><strong><a href="http://xtankalitan.blogspot.com/2009/05/sejarah-dalem-kalitan.html">Sejarah Dalem Kalitan</a></strong></h3>
<div>Surakarta: Dalem Kalitan yang menjadi tempat mantan Presiden Soeharto dan keluarganya beristirahat bila berkunjung ke Surakarta, Jawa Tengah, sempat ramai dikunjungi berbagai kalangan. Terutama ketika Pak Harto menjabat sebagai presiden. Namun, setelah penguasa Orde Baru itu lengser keprabon atau turun dari tampuk kekuasaan pada 21 Mei 1998, Dalem Kalitan menjadi sepi pengunjung, bahkan penjagaannya lebih ketat.<br />
Di atas tanah seluas satu hektare berdiri bangunan tua bergaya limas atau joglo, salah satu ciri khas arsitektur Jawa, khususnya Yogyakarta dan Surakarta. Di Dalem Kalitan itulah tempat peristirahatan Soeharto dan Siti Hartinah Soeharto (Ibu Tien) semasa hidup jika berkunjung ke Surakarta.<br />
Sejatinya, sebelum tahun 1965, pesanggrahan tersebut milik Paku Buwono X yang dihibahkan ke putra bungsunya, Kanjeng Gusti Ratu Alit. Itulah sebabnya pesanggrahan ini diberi nama Dalem Kalitan. Beberapa tahun setelah Pak Harto menjadi presiden, Dalem Kalitan dibeli oleh orang tua Ibu Tien, Kanjeng Pangeran Sumoharyomo.<br />
Kini, dengan penjagaan yang ketat, tak setiap orang dapat memasuki ruang bagian dalam Kalitan. Di situ terdapat tempat-tempat khusus untuk peristirahatan Soeharto dan keluarganya. Sewaktu Pak Harto menjadi presiden dan Ibu Tien belum wafat, Dalem Kalitan kerap dipakai sebagai tempat reuni keluarga besar Cendana.<br />
Memang, Dalem Kalitan menyimpan lembaran sejarah tersendiri. Khususnya bagi Pak Harto dan Ibu Tien. Di sanalah dulu mereka berdua menikmati kehidupan pengantin baru. Dalem Kalitan banyak menyimpan kenangan bagi almarhum dan keluarganya. Selain menjadi tempat peristirahatan juga ajang pertemuan Soeharto dengan berbagai kalangan masyarakat.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)</p>
<p>NDALEM Kalitan begitu populer sebagai rumah Pak Harto di tengah-tengah jantung Kota Solo. Namun sepertinya tak banyak yang tahu sejarah rumah asri berarsitektur Jawa tersebut.</p>
<p>Kepala Rumah Tangga Ndalem kalitan, Sriyanto, pekan lalu kepada okezone menuturkan, tanah dan bangunan seluas 9.000 meter persegi itu dibeli Pak Harto secara kredit pada tahun 1967, saat awal kepemimpinannya sebagai presiden. &#8220;Itu dibeli secara kredit oleh Pak Harto dan Bu Tien,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Awalnya, tanah yang 90 persennya berupa bangunan itu merupakan milik putri tertua Paku Buwono (PB) X, Gusti Ratu Alit, yang kemudian diwariskan kepada tante Bu Tien yang juga masih kerabat kraton. &#8220;Baru setelah itu dibeli Bu Tien tadi, daripada jatuh ke tangan orang lain, kan Bu Tien masih kerabat kraton juga dari Mangkunegaran,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Rumah yang berlokasi di kawasan Kalitan, di tengah pusat kota SOlo itu dibangun sejak tahun 1789 atau 147 tahun yang lalu. Kediaman dengan tembok beton dan gerbang kayu lawas itu masih berarsitektur Jawa kuno. Bangunan utama terdiri dari tiga bagian, yakni pendhapa (ruang depan berbentuk joglo), pringgitan (ruang atau selasar tengah) dan senthong (ruang tidur).</p>
<p>&#8220;Sampai sekarang bangunannya masih dipertahankan sejak pertama kali dibangun. Hanya tahun 1990-an saja pernah direnovasi sekali, itu pun hanya mengganti atap saja,&#8221; ungkap pria yang akrab disapa Pak Sri ini.</p>
<p>Sementara itu, di halaman depan terbentang taman rumput dan pepohonan yang cukup asri. Beberapa unggas seperti ayam, burung dara dan merak juga tampak tersebar dalam kandang cantik di sekitar taman. Sedangkan di sisi kanan luar gerbang terdapat sebuah pohon beringin besar yang cukup teduh.</p>
<p>Kini Ndalem kalitan yang berlokasi sekira 8 kilometer dari Bandara ini hanya ditinggali oleh Pak Sri dan belasan karyawan. Sejak Pak Harto lengser, keluarga Cendana jarang yang menampakkan diri di Kalitan.</p>
<p>Ndalem Kalitan juga dibuka untuk umum. Setiap harinya ada saja masyarakat yang kebetulan ada kegiatan di Solo datang untuk sekedar melihat rumah mantan penguasa orde baru itu. &#8220;Biasanya mereka cukup senang berfoto-foto di pendhapa. Kan ada foto Pak Harto, Bu Tien dan keluarganya,&#8221; ujar salah satu tukang kebun Ndalem Kalitan, Sardi bapaknya tawon</p></div>
<div>
<div><a title="Edit Entri" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5822550706817485319&amp;postID=5270399630484817098"> </a></div>
</div>
<div id="comments"><a name="comments"></a><!-- spacer for skins that want sidebar and main to be the same height--></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahkalitan.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahkalitan.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahkalitan.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahkalitan.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahkalitan.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahkalitan.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahkalitan.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahkalitan.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahkalitan.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahkalitan.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahkalitan.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahkalitan.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahkalitan.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahkalitan.wordpress.com/213/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=213&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/30/sejarah-ndalem-kalitan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89d2b02c0a9c4cf2c532a320d7320256?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cahkalitan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GUNUNG MERAPI</title>
		<link>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/29/gunung-merapi/</link>
		<comments>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/29/gunung-merapi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 21:50:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cahkalitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[tombo stres]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahkalitan.wordpress.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Gunung Merapi (2914 meter) hingga saat ini masih dianggap sebagai gunung berapi aktif dan paling berbahaya di Indonesia, namun menawarkan panorama dan atraksi alam yang indah dan menakjubkan. Secara geografis terletak di perbatasan Kabupaten Sleman (DIY), Kabupaten Magelang (Jateng), Kabupaten Boyolali (Jateng) dan Kabupaten Klaten (Jateng). Berjarak 30 Km ke arah utara Kota Yogyakarta, 27 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=210&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gunung Merapi (2914 meter) hingga saat ini masih dianggap sebagai gunung berapi aktif dan paling berbahaya di Indonesia, namun menawarkan panorama dan atraksi alam yang indah dan menakjubkan. Secara geografis terletak di perbatasan Kabupaten Sleman (DIY), Kabupaten Magelang (Jateng), Kabupaten Boyolali (Jateng) dan Kabupaten Klaten (Jateng). Berjarak 30 Km ke arah utara Kota Yogyakarta, 27 Km ke arah Timur dari Kota Magelang, 20 Km ke arah barat dari Kota Boyolali dan 25 Km ke arah utara dari Kota Klaten.</p>
<p>Menurut Atlas Tropische Van Nederland lembar 21 (1938) terletak pada posisi geografi 7 derajad 32.5&#8242; Lintang Selatan dan 110 derajad 26.5&#8242; Bujur Timur. Dengan ketinggian 2914 m diatas permukaan air laut. Berada pada titik persilangan sesar Transversal perbatasan DIY dan Jawa Tengah serta sesar Longitudinal lintas Jawa (lihat Triyoga Lucas Sasongko 1990, Manusia Jawa &amp; Gunung Merapi Persepsi dan Sistem Kepercayaanya, Gadjahmada Univ. Press). Meletus lebih dari 37 kali, terbesar pada tahun 1972 yang menewaskan 3000 jiwa. Terakhir meletus pada Selasa Kliwon tanggal 22 November 1994, dengan korban tewas lebih dari 50 orang</p>
<p><strong>Mitologi G. Merapi.</strong></p>
<p>Untuk memahami mitologi Gunung Merapi tidak bisa terlepas dari filosofi Kota Yogyakarta dengan karaton sebagai pancernya. Kota ini terbelah oleh sumbu imajiner yang menghubungkan Laut Kidul, Parangkusumo &#8211; Panggung Krapyak &#8211; Karaton &#8211; Tugu Pal Putih dan Gunung Merapi. Secara filosofis hal ini dibagi menjadi dua aspek, yaitu Jagat Alit dan Jagat Ageng.</p>
<p><strong>Jagat alit</strong>, yang mengurai proses awal-akhir hidup dan kehidupan manusia dengan segala perilaku yang lurus sehingga terpahaminya hakekat hidup dan kehidupan manusia, digambarkan dengan planologi Kota Yogyakarta sebagai Kota Raja pada waktu itu. Planologi kota ini membujur dari selatan ke utara berawal dari Panggung Krapyak, berakhir di Tugu Pal Putih. Hal ini menekankan hubungan timbal balik antara Sang Pencipta dan manusia sebagai ciptaannnya (Sangkan Paraning dumadi).</p>
<p>Dalam perjalanan hidupnya manusia tergoda oleh berbagai macam kenikmatan duniawi. Godaan tersebut dapat berupa wanita dan harta yang digambarkan dalam bentuk pasar Beringharjo. Adapun godaan akan kekuasaan digambarkan oleh komplek Kepatihan yang kesemuanya berada pada sisi kanan pada jalan lurus antara kraton dan Tugu Pal Putih, sebagai lambang manusia yang dekat dengan pencipta-Nya (Manunggalaing Kawula Gusti).</p>
<p><strong>Jagat Ageng</strong>, yang mengurai tentang hidup dan kehidupan masyarakat, di mana sang pemimpin masyarakat siapapaun dia senantiasa harus menjadikan hati nurani rakyat sebagai isteri pertama dan utamanya guna mewujudkan kesejahteraan lahir bathin bagi masyarakat dilandasi dengan keteguhan dan kepercayaan bahwa hanya satu pencipta yang Maha Besar. Jagat Ageng ini digambarkan dengan garis imajiner dari Parangkusuma di Laut selatan &#8211; Karaton Yogyakarta &#8211; Gunung Merapi. Hal ini lebih menekankan hubungan antara manusia yang hidup di dunia dimana seorang manusia harus memahami terlebih dahulu hakekat hidup dan kehidupannya sehingga mampu mencapai kesempurnaan hidup (Manungggaling Kawula Gusti).</p>
<p>Gunung Merapi menduduki posisi penting dalam mitologi Jawa, diyakini sebagai pusat kerajaan mahluk halus, sebagai &#8220;swarga pangrantunan&#8221;, dalam alur perjalanan hidup yang digambarkan dengan sumbu imajiner dan garis spiritual kelanggengan yang menghubungkan Laut Kidul &#8211; Panggung krapyak &#8211; Karaton Yogyakarta &#8211; Tugu Pal Putih &#8211; Gunung Merapi. Simbol ini mempunyai makna tentang proses kehidupan manusia mulai dari lahir sampai menghadap kepada sang Maha Pencipta.</p>
<p>Menurut foklor yang diceritakan oleh Juru Kunci Merapi yang bernama R. Ng. Surakso Hargo atau sering disebut mbah Marijan disebutkan bahwa konon Karaton Merapi ini dikuasai oleh Empu Rama dan Empu Permadi. Dahulu sebelum kehidupan manusia, keadaan dunia miring tidak stabil. Batara Guru memerintahkan kepada kedua Empu untuk membuat keris, sebagai pusaka tanah Jawa agar dunia stabil. Namun belum selesai keburu mengutus para Dewa untuk memindahkan G. Jamurdipa yang semula berada di Laut Selatan ke Pulau Jawa bagian tengah, utara Kota Yogyakarta (sekarang) dimana kedua Empu tersebut sedang mengerjakan tugasnya. Karena bersikeras berpegang pada &#8220;Sabda Pendhita Ratu&#8221; (satunya kata dan perbuatan) serta tidak mau memindahkan kegiatannya, maka terjadilah perang antara para Dewa dengan kedua Empu tadi yang akhirnya dimenangkan oleh kedua Empu tersebut.</p>
<p>Mendengar kekalahan para Dewa, Batara Guru memerintahkan Batara Bayu untuk menghukum keduanya dengan meniup G. Jamurdipa sehingga terbang diterpa angin besar ke arah utara dan jatuh tepat diatas perapian dan mengubur mati Empu Rama dan Permadi. Namun sebenarnya dia tidak mati hanya berubah menjadi ujud yang lain dan akhirnya menguasai Kraton makhluk halus di tempat itu. Sejak itu arwahnya dipercaya untuk memimpin kerajaan di Gunung Merapi tersebut. Masyarakat Karaton Merapi adalah komunitas arwah mereka yang tatkala hidup didunia melakukan amal yang baik. Bagi mereka yang selalu melakukan amalan yang jelek arwahnya tidak bisa diterima dalam komunitas mahluk halus Karaton Merapi, biasanya terus nglambrang kemana-mana lalu hinggap di batu besar, jembatan, jurang dsb menjadi penunggu tempat tersebut.</p>
<p>Menurut cerita rakyat yang lain yang juga diceritakan oleh mbah Marijan : Konon pada masa kerajaan Mataram tepatnya pada pemerintahan Panembahan Senopati Pendiri Dinasti Mataram (1575-1601). Panembahan Senopati mempunyai kekasih yang bernama Kanjeng Ratu Kidul, Penguasa Laut Selatan. Ketika keduanya sedang memadu kasih dia diberi sebutir &#8220;endhog jagad&#8221; (telur dunia) untuk dimakan. Namun dinasehati oleh Ki Juru Mertani agar endog jagad tersebut jangan dimakan tapi diberikan saja kepada Ki Juru Taman. Setelah memakannya ternyata Juru Taman berubah menjadi raksasa, dengan wajah yang mengerikan. Kemudian Panembahan Senopati memerintahkan kepada si raksasa agar pergi ke G. Merapi dan diangkat menjadi Patih Karaton Merapi, dengan sebutan Kyai Sapujagad. (Marijan 1996, wawancara)</p>
<p><strong>Labuhan &amp; Selamatan</strong></p>
<p>Sebagai perwujudan kepercayaan Karaton Mataram terhadap keberadaan sekutu mistisnya yaitu Karaton Kidul (di Samodera Indonesia) dan Karaton Merapi ini, maka diselenggarakan prosesi Labuhan. Labuhan berasal dari kata labuh yang artinya persembahan. Upacara adat karaton Mataram (Yogyakarta dan Surakarta) ini sebagai perwujudan doa persembahan kepada Tuhan YME agar karaton dan rakyatnya selalu diberi keselamatan dan kemakmuran. Labuhan biasanya diselenggarakan di beberapa tempat antara lain di : G. Merapi, Pantai Parangkusumo, G. Lawu dan Kahyangan Dlepih. Biasanya dilaksanakan untuk memulai suatu upacara besar tertentu seperti Tingalan Jumenengan. Barang-barang milik raja yang dilabuh antara lain : Semekan solok, semekan, kain cinde, lorodan layon sekar, guntingan rikmo, dan kenoko selama setahun, seperangkat busana sultan dan kuluk kanigoro.</p>
<p>Disamping labuhan ada beberapa upacara selamatan yang lain yang dilakukan oleh masyarakat setempat, seperti : Sedekah Gunung, Selamatan Ternak, Selamatan Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, Selamatan Mencari Orang Hilang, Selamatan Orang Kesurupan, Selamatan Sekul Bali, Selamatan Mengambil Jenazah, Selamatan Menghadapi Bahaya Merapi, dll. Dua diantaranya ditunjukkan oleh Upacara Becekan dan Upacara Banjir Lahar berikut ini.</p>
<p><strong>Upacara Becekan</strong>, disebut juga Dandan Kali atau Memetri Kali yang berarti memelihara atau memperbaiki lingkungan sungai, berupa upacara meminta hujan pada musim kemarau yang berlangsung di Kalurahan Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Air sungai sangat penting bagi penduduk setempat untuk keperluan pertanian. Konon sesudah diadakan upacara biasanya segera turun hujan sehingga tanah menjadi becek maka lalu disebut becekan. Becek diartikan juga sebagai sesaji berujud daging kambing yang dimasak gulai. Dusun yang melaksanakan upacara ini antara lain : Dusun Pagerjurang, Dusun Kepuh dan Dusun Manggong. Penyelenggaraannya dibagi menjadi beberapa tahap: Pertama, memetri sumur di Dusun Kepuh (di kawasan itu hanya dusun ini yang memiliki sumur); Kedua, Upacara Becekan dilakukan di tengah-tengah Sungai Gendol; Ketiga upacara khusus di masing-masing dusun. Upacara ini dimaksudkan untuk berdoa memohon hujan kepada Tuhan YME agar tanah menjadi subur, sehingga warga menjadi sehat, aman, selamat dan sejahtera. Waktu penyelenggaraan, menggunakan pranotomongso yaitu pada mongso kapat dan harinya Jumat Kliwon, jika pada mongso kapat tidak terdapat Jumat Kliwon diundur pada mongso kalimo, sebab hari itu dianggap keramat. Upacara ini dipimpin oleh seorang modin dan diikuti oleh warga ketiga dusun. Perlu diketahui bahwa seluruh rangkaian acara ini harus dilakukan/diikuti oleh kaum laki-laki dan sesaji sama sekali tidak boleh disentuh oleh wanita serta kambing untuk sesaji harus kambing jantan.</p>
<p><strong>Upacara Banjir Lahar</strong>, tradisi penduduk sekitar gunung berapi, khususnya dalam menanggapi bencana lahar. Salah satunya bisa disaksikan di Dusun Tambakan, Desa Sindumartani, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, sebagai salah satu desa yang sering dilewati bencana lahar (dingin atau panas) dari Gunung Merapi.</p>
<p>Upacara ini berupa doa mohon keselamatan dan perlindungan kepada Tuhan YME bagi segenap penduduk agar terhindar dari marabahaya, disertai dengan peletakan sesaji berupa kelapa muda di sungai yang diperkirakan akan dilewati lahar. Hal ini dilakukan bila telah melihat tanda-tanda alam akan datangnya bencana lahar yang telah mereka kenal secara turun temurun.</p>
<p>Penduduk yang bermukim di tepi sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi kadang mendengar suara-suara aneh di malam hari, misalnya gemerincing suara kereta kencana yang lewat. Konon merupakan pertanda bahwa Karaton Merapi sedang mengirimkan rombongan dalam rangka hajat untuk mengawinkan kerabatnya dengan salah satu penghuni Karaton Laut Kidul. Hal itu ditafsirkan sebagai pertanda mistis bahwa sebentar lagi akan terjadi banjir lahar yang akan melalui sungai itu, sehingga bagi mereka yang tahu akan segera membuat langkah-langkah pengamanan dan penyelamatan.</p>
<p>Adapun tujuan dari penyelenggaraan berbagai prosesi selamatan tersebut konon adalah untuk berdoa memohon keselamatan dan kelimpahan rejeki kepada Tuhan YME serta memberi sedekah kepada makhluk halus penghuni Merapi agar tidak mengganggu penduduk, damai dan terbebas dari marabahaya, sehingga tercipta satu harmoni antara manusia dan lingkungan alam. Apabila perilaku manusia negatif maka maka alampun akan negatif pula.</p>
<p>Konsep keseimbangan yang menjadi kearifan penduduk sekitar Gunung Merapi merupakan implementasi dari nilai-nilai yang mereka percaya bahwa para penghuni akan murka ketika menyimpang dari kaidah-kaidah alam yang benar dan seimbang. Letak harmoninya tidak saja terletak pada sesaji yang disediakan namun pada perilaku yang selalu diusahakan untuk tidak nyebal (menyimpang) dari kaedah-kaedah keseimbangan alam, yang selalu selaras serasi dan seimbang untuk menjaga keutuhan ekosistem. <strong>(A. Ferry T. Indratno, diolah dari beberapa dokumen tentang G. Merapi milik TeMBI)</strong></p>
<p><span id="more-210"></span><!--more--></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahkalitan.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahkalitan.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahkalitan.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahkalitan.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahkalitan.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahkalitan.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahkalitan.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahkalitan.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahkalitan.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahkalitan.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahkalitan.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahkalitan.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahkalitan.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahkalitan.wordpress.com/210/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=210&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/29/gunung-merapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89d2b02c0a9c4cf2c532a320d7320256?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cahkalitan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Danang Sutawijaya</title>
		<link>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/29/danang-sutawijaya/</link>
		<comments>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/29/danang-sutawijaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 21:41:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cahkalitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[tombo stres]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/29/danang-sutawijaya/</guid>
		<description><![CDATA[Danang Sutawijaya (lahir: ? &#8211; wafat: Jenar, 1601) adalah pendiri Kesultanan Mataram yang memerintah sebagai raja pertama pada tahun 1587-1601, bergelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. Tokoh ini dianggap sebagai peletak dasar-dasar Kesultanan Mataram. Riwayat hidupnya banyak digali dari kisah-kisah tradisional, misalnya naskah-naskah babad karangan para pujangga zaman berikutnya. Asal-Usul Danang Sutawijaya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=207&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#000000;"><strong>Danang Sutawijaya</strong> (lahir: ? &#8211; wafat: Jenar, <a title="1601" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1601">1601</a>) adalah pendiri <a title="Kesultanan Mataram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Mataram">Kesultanan Mataram</a> yang memerintah sebagai raja pertama pada tahun <a title="1587" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1587">1587</a>-<a title="1601" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1601">1601</a>, bergelar <strong>Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa</strong>. Tokoh ini dianggap sebagai peletak dasar-dasar Kesultanan Mataram. Riwayat hidupnya banyak digali dari kisah-kisah tradisional, misalnya naskah-naskah babad karangan para pujangga zaman berikutnya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Asal-Usul</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Danang Sutawijaya adalah putra sulung pasangan <a title="Ki Ageng Pamanahan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Ageng_Pamanahan">Ki Ageng Pamanahan</a> dan Nyai Sabinah. Menurut naskah-naskah babad, ayahnya adalah keturunan <a title="Brawijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Brawijaya">Brawijaya</a> raja terakhir <a title="Majapahit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit">Majapahit</a>, sedangkan ibunya adalah keturunan <a title="Sunan Giri" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Giri">Sunan Giri</a><a title="Walisanga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Walisanga">Walisanga</a>. Hal ini seolah-olah menunjukkan adanya upaya para pujangga untuk mengkultuskan raja-raja Kesultanan Mataram sebagai keturunan orang-orang istimewa.</span> anggota</p>
<p><span style="color:#000000;">Nyai Sabinah memiliki kakak laki-laki bernama <a title="Ki Juru Martani" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Juru_Martani">Ki Juru Martani</a>, yang kemudian diangkat sebagai <a title="Patih" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Patih">patih</a> pertama Kesultanan Mataram. Ia ikut berjasa besar dalam mengatur strategi menumpas <a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang">Arya Penangsang</a> pada tahun <a title="1549" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1549">1549</a>.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Sutawijaya juga diambil sebagai anak angkat oleh <a title="Jaka Tingkir" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jaka_Tingkir">Hadiwijaya</a> bupati <a title="Pajang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pajang">Pajang</a> sebagai pancingan, karena pernikahan Hadiwijaya dan istrinya sampai saat itu belum dikaruniai anak. Sutawijaya kemudian diberi tempat tinggal di sebelah utara pasar sehingga ia pun terkenal dengan sebutan <strong>Raden Ngabehi Loring Pasar</strong>.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Peran Awal</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Sayembara menumpas <a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang">Arya Penangsang</a> tahun <a title="1549" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1549">1549</a> merupakan pengalaman perang pertama bagi <strong>Sutawijaya</strong>. Ia diajak ayahnya ikut serta dalam rombongan pasukan supaya <a title="Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hadiwijaya">Hadiwijaya</a> merasa tidak tega dan menyertakan pasukan <a title="Pajang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pajang">Pajang</a> sebagai bala bantuan. Saat itu <strong>Sutawijaya</strong> masih berusia belasan tahun.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang">Arya Penangsang</a> adalah <a title="Bupati Jipang Panolan (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bupati_Jipang_Panolan&amp;action=edit&amp;redlink=1">Bupati Jipang Panolan</a> yang telah membunuh <a title="Sunan Prawoto" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Prawoto">Sunan Prawoto</a> raja terakhir <a title="Kesultanan Demak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Demak">Kesultanan Demak</a>. Ia sendiri akhirnya tewas di tangan Sutawijaya. Akan tetapi sengaja disusun laporan palsu bahwa kematian <a title="Arya Penangsang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang">Arya Penangsang</a> akibat dikeroyok <a title="Ki Ageng Pamanahan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Ageng_Pamanahan">Ki Ageng Pamanahan</a> dan <a title="Ki Panjawi (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ki_Panjawi&amp;action=edit&amp;redlink=1">Ki Panjawi</a>, karena jika <a title="Sultan Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Hadiwijaya">Sultan Hadiwijaya</a> sampai mengetahui kisah yang sebenarnya (bahwa pembunuh <a title="Bupati Jipang Panolan (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bupati_Jipang_Panolan&amp;action=edit&amp;redlink=1">Bupati Jipang Panolan</a> adalah anak angkatnya sendiri), dikhawatirkan ia akan lupa memberikan hadiah.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Memberontak Terhadap Pajang</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Usai sayembara, Ki Panjawi mendapatkan tanah <a title="Pati" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pati">Pati</a> dan menjadi bupati di sana sejak tahun <a title="1549" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1549">1549</a>, sedangkan <a title="Ki Ageng Pamanahan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Ageng_Pamanahan">Ki Ageng Pamanahan</a> baru mendapatkan tanah <a title="Mataram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mataram">Mataram</a> sejak tahun <a title="1556" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1556">1556</a>. Sepeninggal Ki Ageng Pamanahan tahun <a title="1575" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1575">1575</a>, Sutawijaya menggantikan kedudukannya sebagai pemimpin Mataram, bergelar <strong>Senapati Ingalaga</strong> (yang artinya “panglima di medan perang”).</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pada tahun <a title="1576" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1576">1576</a> Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi Wuragil dari <a title="Pajang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pajang">Pajang</a> tiba untuk menanyakan kesetiaan Mataram, mengingat Senapati sudah lebih dari setahun tidak menghadap <a title="Sultan Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Hadiwijaya">Sultan Hadiwijaya</a>. Senapati saat itu sibuk berkuda di desa Lipura, seolah tidak peduli dengan kedatangan kedua utusan tersebut. Namun kedua pejabat senior itu pandai menjaga perasaan Sultan Hadiwijaya melalui laporan yang mereka susun.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Senapati memang ingin menjadikan Mataram sebagai kerajaan merdeka. Ia sibuk mengadakan persiapan, baik yang bersifat material ataupun spiritual, misalnya membangun benteng, melatih tentara, sampai menghubungi <a title="Ratu Laut Selatan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ratu_Laut_Selatan">penguasa Laut Kidul</a> dan <a title="Gunung Merapi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Merapi">Gunung Merapi</a>. Senapati juga berani membelokkan para <em>mantri pamajegan</em> dari <a title="Kedu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kedu">Kedu</a> dan <a title="Kabupaten Purworejo" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Purworejo">Bagelen</a> yang hendak menyetor pajak ke Pajang. Para mantri itu bahkan berhasil dibujuknya sehingga menyatakan sumpah setia kepada Senapati.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Sultan Hadiwijaya resah mendengar kemajuan anak angkatnya. Ia pun mengirim utusan menyelidiki perkembangan Mataram. Yang diutus adalah Arya Pamalad Tuban, <a title="Pangeran Benawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pangeran_Benawa">Pangeran Benawa</a>, dan Patih Mancanegara. Semuanya dijamu dengan pesta oleh Senapati. Hanya saja sempat terjadi perselisihan antara Raden Rangga (putra sulung Senapati) dengan Arya Pamalad.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Memerdekakan Mataram</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pada tahun <a title="1582" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1582">1582</a> Sultan Hadiwijaya menghukum buang Tumenggung Mayang ke <a title="Semarang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Semarang">Semarang</a> karena membantu anaknya yang bernama Raden Pabelan, menyusup ke dalam keputrian menggoda Ratu Sekar Kedaton, putri bungsu Sultan. Raden Pabelan sendiri dihukum mati dan mayatnya dibuang ke Sungai Laweyan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ibu Pabelan adalah adik Senapati. Maka Senapati pun mengirim para <em>mantri pamajegan</em> untuk merebut Tumenggung Mayang dalam perjalanan pembuangannya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Perbuatan Senapati ini membuat <a title="Sultan Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Hadiwijaya">Sultan Hadiwijaya</a> murka. Sultan pun berangkat sendiri memimpin pasukan <a title="Pajang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pajang">Pajang</a><a title="Mataram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mataram">Mataram</a>. Perang terjadi. Pasukan Pajang dapat dipukul mundur meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak.</span> menyerbu</p>
<p><span style="color:#000000;">Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dalam perjalanan pulang ke Pajang. Ia akhirnya meninggal dunia namun sebelumnya sempat berwasiat agar anak-anaknya jangan ada yang membenci Senapati serta harus tetap memperlakukannya sebagai kakak sulung. Senapati sendiri ikut hadir dalam pemakaman ayah angkatnya itu.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Menjadi Raja</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><a title="Arya Pangiri" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Pangiri">Arya Pangiri</a> adalah menantu <a title="Sultan Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Hadiwijaya">Sultan Hadiwijaya</a> yang menjadi adipati <a title="Demak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Demak">Demak</a>. Ia didukung Panembahan Kudus berhasil merebut takhta <a title="Pajang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pajang">Pajang</a> pada tahun <a title="1583" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1583">1583</a> dan menyingkirkan <a title="Pangeran Benawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pangeran_Benawa">Pangeran Benawa</a> menjadi adipati Jipang.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pangeran Benawa kemudian bersekutu dengan Senapati pada tahun <a title="1586" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1586">1586</a> karena pemerintahan Arya Pangiri dinilai sangat merugikan rakyat Pajang. Perang pun terjadi. Arya Pangiri tertangkap dan dikembalikan ke Demak.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pangeran Benawa menawarkan takhta Pajang kepada Senapati namun ditolak. Senapati hanya meminta beberapa pusaka Pajang untuk dirawat di Mataram.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pangeran Benawa pun diangkat menjadi raja Pajang sampai tahun <a title="1587" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1587">1587</a>. Sepeninggalnya, ia berwasiat agar Pajang digabungkan dengan Mataram. Senapati dimintanya menjadi raja. Pajang sendiri kemudian menjadi bawahan Mataram, dengan dipimpin oleh Pangeran Gagak Baning, adik Senapati.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Maka sejak itu, Senapati menjadi raja pertama Mataram bergelar <em>Panembahan</em>. Ia tidak mau memakai gelar Sultan untuk menghormati Sultan Hadiwijaya dan Pangeran Benawa. Istana pemerintahannya terletak di <a title="Kotagede" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kotagede">Kotagede</a>.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Memperluas Kekuasaan Mataram</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Sepeninggal <a title="Sultan Hadiwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Hadiwijaya">Sultan Hadiwijaya</a>, daerah-daerah bawahan di <a title="Jawa Timur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur">Jawa Timur</a> banyak yang melepaskan diri. Persekutuan adipati Jawa Timur tetap dipimpin <a title="Surabaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Surabaya">Surabaya</a> sebagai negeri terkuat. Pasukan mereka berperang melawan pasukan <a title="Mataram" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mataram">Mataram</a> di <a title="Mojokerto" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mojokerto">Mojokerto</a> namun dapat dipisah utusan <a title="Giri Kedaton" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Giri_Kedaton">Giri Kedaton</a>.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Selain <a title="Pajang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pajang">Pajang</a> dan <a title="Demak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Demak">Demak</a> yang sudah dikuasai Mataram, daerah <a title="Pati" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pati">Pati</a> juga sudah tunduk secara damai. Pati saat itu dipimpin <a title="Adipati Pragola" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Adipati_Pragola">Adipati Pragola</a> putra Ki Panjawi. Kakak perempuannya (Ratu Waskitajawi) menjadi permaisuri utama di Mataram. Hal itu membuat Pragola menaruh harapan bahwa Mataram kelak akan dipimpin keturunan kakaknya itu.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pada tahun <a title="1590" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1590">1590</a> gabungan pasukan Mataram, Pati, Demak, dan Pajang bergerak menyerang <a title="Madiun" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Madiun">Madiun</a>. Adipati Madiun adalah <a title="Rangga Jemuna (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rangga_Jemuna&amp;action=edit&amp;redlink=1">Rangga Jemuna</a> (putra bungsu<span style="color:#000000;"> <a title="Sultan Trenggana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Trenggana">Sultan Trenggana</a></span>) yang telah mempersiapkan pasukan besar menghadang penyerangnya. Melalui tipu muslihat cerdik, Madiun berhasil direbut. Rangga Jemuna melarikan diri ke <a title="Surabaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Surabaya">Surabaya</a>, sedangkan putrinya yang bernama Retno Dumilah diambil sebagai istri Senapati.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pada tahun <a title="1591" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1591">1591</a> terjadi perebutan takhta di <a title="Kediri" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kediri">Kediri</a> sepeninggal bupatinya. Putra adipati sebelumnya yang bernama Raden Senapati Kediri diusir oleh adipati baru bernama Ratujalu hasil pilihan Surabaya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Senapati Kediri kemudian diambil sebagai anak angkat Panembahan Senapati Mataram dan dibantu merebut kembali takhta Kediri. Perang berakhir dengan kematian bersama Senapati Kediri melawan Adipati Pesagi (pamannya).</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pada tahun <a title="1595" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1595">1595</a> adipati <a title="Pasuruan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pasuruan">Pasuruhan</a> berniat tunduk secara damai pada Mataram namun dihalang-halangi panglimanya, yang bernama Rangga Kaniten. Rangga Kaniten dapat dikalahkan Panembahan Senapati dalam sebuah perang tanding. Ia kemudian dibunuh sendiri oleh adipati Pasuruhan, yang kemudian menyatakan tunduk kepada Mataram.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pada tahun <a title="1600" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1600">1600</a> terjadi pemberontakan Adipati Pragola dari Pati. Pemberontakan ini dipicu oleh pengangkatan Retno Dumilah putri Madiun sebagai permaisuri kedua Senapati. Pasukan Pati berhasil merebut beberapa wilayah sebelah utara Mataram. Perang kemudian terjadi dekat Sungai Dengkeng di mana pasukan Mataram yang dipimpin langsung oleh Senapati sendiri berhasil menghancurkan pasukan Pati.<strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Akhir Pemerintahan</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Panembahan Senapati alias Danang Sutawijaya meninggal dunia pada tahun <a title="1601" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1601">1601</a> saat berada di desa Kajenar. Ia kemudian dimakamkan di <a title="Kotagede" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kotagede">Kotagede</a>. Putra yang ditunjuk sebagai raja selanjutnya adalah yang lahir dari putri <a title="Pati" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pati">Pati</a>, bernama <a title="Mas Jolang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mas_Jolang">Mas Jolang</a>.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Kepustakaan</strong></span></p>
<ul>
<li><span style="color:#000000;"><em>Babad Tanah Jawi, Mulai dari      Nabi Adam Sampai Tahun 1647</em>.      (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi</span></li>
<li><span style="color:#000000;">H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud.      2001. <em>Kerajaan Islam Pertama di Jawa</em>. Terj. Jakarta: Pustaka Utama      Grafiti</span></li>
<li><span style="color:#000000;">M.C. Ricklefs. 1991. <em>Sejarah      Indonesia Modern</em> (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Moedjianto. 1987. <em>Konsep      Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram</em>. Yogyakarta:      Kanisius</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Purwadi. 2007. <em>Sejarah      Raja-Raja Jawa</em>. Yogyakarta: Media Ilmu</span></li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahkalitan.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahkalitan.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahkalitan.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahkalitan.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahkalitan.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahkalitan.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahkalitan.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahkalitan.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahkalitan.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahkalitan.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahkalitan.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahkalitan.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahkalitan.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahkalitan.wordpress.com/207/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahkalitan.wordpress.com&amp;blog=3060837&amp;post=207&amp;subd=cahkalitan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahkalitan.wordpress.com/2009/12/29/danang-sutawijaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/89d2b02c0a9c4cf2c532a320d7320256?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cahkalitan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
