SOLO, KOTA SEJARAH DAN MENYEJARAH

Selama 261 tahun perjalanan Kota Solo, sarat dengan peristiwa yang mewarnai sejarah bangsa Indonesia. Sebut saja peristiwa lahirnya Serikat Islam pada tahun 1911, di mana saat itu reaksi wong Solo bergolak atas campur tangan ekonomi kolonial. Tahun 1924 dengan pergerakan faham komunis di bawah Haji Mizbah yang saat itu bisa menguasai kereta api.

Pada era pascakemerdekaan, Solo terpilih sebagai tempat penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) I tahun 1948. Saat itu Stadion Sriwedari merupakan satu-satunya stadion yang dimiliki Indonesia. Sejarah kelam bangsa ini juga hadir di Solo saat geger pecinan dan kerusuhan Mei 1998. Bisa dikatakan, gejolak politik di nasional cukup sensitif dirasakan masyarakat Solo yang salah satu manifestasinya dalam bentuk kerusuhan.

Aura Kota Solo seakan mendorong kehidupan kota ini untuk tidak pernah berhenti menorehkan sejarah. Sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Sudarmono, Jumat (17/2), menuturkan, sejarah dipahami sebagai peristiwa yang bermakna.

Dalam konteks Kota Solo, kelahiran kota ini sendiri merupakan peristiwa sejarah yang ditandai perpindahan keraton dari Kartasura ke Desa Sala. “Pemilihan lokasi dibangunnya Keraton Surakarta sendiri bermakna bagi eksistensi kerajaan. Konsep “kutaraja” yang dikelilingi benteng Baluwarti dihadirkan di lokasi yang awalnya pusat perdagangan Bengawan Solo, mengingat di sana ada pertemuan sejumlah sungai yang waktu itu merupakan sarana transportasi perdagangan,” katanya.

Lokasi dibangunnya keraton pada awalnya berupa kedung dan merupakan pertemuan sejumlah sungai. Ada Sungai Batangan yang bertemu dengan Sungai Tempuran. Lalu ada Sungai Laweyan atau Banaran yang bertemu dengan Sungai Batangan. Sementara dari arah selatan ada Sungai Wingko dan dari utara ada Sungai Pepe.

Di sekitar pertemuan anak sungai itu, komunitas perdagangan sudah ada sejak lama. Artinya, ada peristiwa hadirnya keraton dengan dominasi rajanya, hadir di peradaban perdagangan sungai. Konsep kuraja ini, menurutnya, hadir dengan simbol-simbol sakral magis. Dari tata letaknya bisa terlihat, ada Pasar Gede Harjonegoro di sebelah timur sebagai simbol sifat duniawi yang terkait dengan hal ekonomis. Ada Masjid Agung di sebelah barat sebagai simbol untuk lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Ada poros tugu Pemandengan Dalem sebagi simbol visi raja yang luas.

Eksistensi kutaraja yang dibangun 1745 ini dipotong oleh Belanda dengan menghadirkan konsep kutanegara. Ini ditandai dengan dibangunnya Benteng Vastenberg dan poros jalan menuju Pabelan, tiga tahun setelah keraton didirikan. Peradaban perdagangan sungai berangsur hilang karena tertutup jalan-jalan yang dibuat Belanda.

“Sejarah perkembangan kutanegara yang dikembangkan Belanda ini juga ditandai keberadaan pejabat residen untuk mengimbangi dominasi raja, serta penunjukan asisten residen mendampingi keberadaan bupati di luar keraton yang berada dibawah kekuasaan keraton,” katanya. Konsep kutanegara ini makin lengkap dengan dibangunnya sejumlah pabrik dan membuat ruang publik.

Banyak peristiwa sejarah Kota yang lahir dari sejarah ini dalam perjalanannya juga melahirkan peristiwa bersejarah. Ada kebangkitan SI, pergolakan komunis, pertempuran monumental empat hari di Solo, PON I, dan sejumlah peristiwa kerusuhan di Solo. Mengapa Kota Solo menjadi begitu menyejarah? “Solo selalu melahirkan kontinuitas sejarah untuk mempertahankan eksistensi budaya perkotaan yang melekat sejak didirikan,” kata Sudarmono.

Solo sarat dengan lembaran sejarah “putih” dan tidak sedikit ada lembaran “kelam” yang juga tertoreh di sana. Jika sejarah yang ingin ditorehkan pada masa yang akan datang adalah lembaran sejarah putih, lalu yang harus dilakukan? “Kalau Solo ingin membangun wacana progresif sebagai kota ‘modern’, tentunya modern yang tetap berkarakter budaya atau akar sejarah dari kota ini. Ketika konsep modern ini hanya mengadopsi konsep dari Barat, tanpa melihat akar budaya Solo, yang terjadi adalah lembaran sejarah kelam seperti kerusuhan dan konflik sosial lainnya,” tegasnya.

Ia mencontohkan keberadaan pasar di Solo yang tumbuh dari ekologi dan sejarah. Roh dari pasar di Solo adalah adanya interaksi sosial dalam bentuk tawar-menawar. Ada semangat berani bersaing lewat mekanisme tawar-menawar tadi. Ada istilah dari pujangga Ronggowarsito, pasar yang gemrenggeng gede suarane (suaranya bergemuruh) itu karena ada tawar-menawar.

Pasar di Solo juga menjadi pusat pemasaran industri di wilayah sekitar Solo. Seperti halnya Pasar Wade yang dulunya menampung ribuan pedagang dan pelaku industri batik, menurutnya menjadi lenyap setelah hadir kawasan perdagangan modern Singosaren. Di saat pengembangan kota tidak lagi memerhatikan akar budayanya, bisa ditebak, kerusuhan massal mewarnai lembaran sejarah di Solo.

Memang dibutuhkan kearifan dari semua pihak, khususnya pemimpin di Solo, untuk memahami progres semacam apa yang akan ditorehkan di saat Solo menyejarah di masa datang. Semoga “Solo masa depan adalah Solo tempo dulu” bukanlah sekadar slogan, tetapi benar-benar visi membangun Solo yang kembali pada akar sejarahnya.

SEJARAH BERDIRINYA KOTA SALA

Siapapun mengetahui bahwa hidup dalam penjajahan itu selain terhina, tidak memiliki kebebasan juga sengsara. Kiranya demikianlah yang dialami oleh Raja Keraton Kasunanan di Kartasura, Sri Susuhunan Paku Buwana II. Sang Raja tidak memiliki kebebasan sama sekali. Sampai-sampai untuk memilih calon putra mahkota raja harus terlebih dahulu meminta persetujuan dari pemerintah penjajah, VOC Belanda. Pemerintah Belanda dan VOC Belanda dengan politik ‘pecah belah’ terhadap Karaton Mataram itu berhasil menguasai seluruh kekuasaan raja jajahannya.Sementara intrik perebutan kekuasaan kerajaan melanda Karaton Kasunanan di Kartasura, yang dilakukan dari dalam keluarga keraton keturunan Mataram, telah menimbulkan kemelut berkepanjangan dan bermusuhan. Di sisi lain pelarian orang-orang orang-orang Cina yang tertindas oleh kompeni VOC Belanda di Jakarta, mereka melarikan diri ke Jawa Tengah. Kemarahan orang-orang Cina tertindas itu ditumpahkannya dalam bentuk pemberontakan orang-orang Cina yang dipimpin oleh Sunan Kuning alias Mas Garendi di tahun 1742 itu juga memperoleh dukungan dari Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said yang memanfaatkan momentum itu. Raden Mas Said sangat marah dan kecewa terhadap kebijaksanaan Karaton Kartasura yang memangkas daerah Sukowati yang dulu diberikan oleh Karaton Kartasura kepada Ayahandanya.Serangan gencar prajurit pemberontakan Cina berhasil menjebol benteng pertahanan Keraton Kartasura dengan menimbulkan banyak korban jiwa. Menghadapi ancaman itu Paku Buwana II memerintahkan kerabat keraton dan para abdi dalem untuk segera mengungsi ke ke wilayah jawa Timur bagian barat daya, yaitu pacitan hingga ke Ponorogo. Sementara itu prajurit pemberontakan Cina menghancurkan keraton Kartasura dan menjarah kekayaan karaton yang tertinggal.Pemimpin Prajurit Kompeni VOC Belanda, Mayor Baron Van Hohendorff segera minta bantuan minta bantuan prajurit Kompeni Belanda di Surabaya. Sementara itu adipati Bagus Suroto dari kadipaten Ponorogo yang merasa benci terhadap pemberontakan orang-orang Cina terhadap Keraton Kartasura, lalu menyediakan prajuritnya untuk segera menumpas prajurit pemberontak orang-orang Cina itu.

Peperangan menumpas pemberontakan orang-orang Cina pimpinan Mas Garendi atau Sunan Kuning berlangsung dengan seru. Akhirnya pemberontakan orang-orang Cina berhasil ditumpas. Setelah tertumpasnya pemberontakan orang-orang Cina maka Pangeran Sambernyawa alis Raden Said berjuang sendiri melawan Kompeni Belanda dan Karaton Kartasura.

Ketika kerabat Keraton Kartasura kembali ke keratonnya, keraton sudah hancur. Maka Sri Susuhunan Paku Buwana II memerintahkan para abdi dalemnya untuk membangun karaton yang baru. Untuk itu Paku Buwana II mengutus petinggi keraton yang terdiri dari Tumenggung Tirtowiguna, Pangeran Wijil, Tumenggug Honggowongsono dan abdi dalem lainnya untuk mencari tempat baru untuk lokasi pembangunan Keraton Kasunanan itu. Mereka memanjatkan doa kepada ALLAH SWT untuk memohon petunjukNya.

Rombongan utusan keraton disertai oleh seekor gajah putih berjalan ke timur. Suatu kali mereka mencium bau wangi di tanah Kadipolo. DesaTalang Wangi itu sebenarnya cocok untuk lokasi pembangunan baru, tetapi tanahnya banyak bukitnya. Lalu rombongan menuju kearah timur lagi. Mereka menyebrabgi sungan Begawan Sala. Mereka tiba di Sonosewu. Tanahnya datar dan dapat menggunakan sungan Begawan Sala sebagai lau lintas. Namun secara spiritual Desa Sonosewu banyak dihuni setan prayangan sehingga tidak baik untuk keraton baru.

Rombongan menuju arah barat, tiba-tiba gajah putih milik keraton berhanti istirahat di dekat daerah berawa. Para petinggi dan abdi dalem keraton kembali memanjatkan doa kepada Allah. Dikeheningan malam mereka mendengar ‘suara tanpa rupa’: “Hai…Engkau yang sedang bertirakat. Kalau Engkau menginginkan sebuah tempat untuk ibukota kerajaan, pergilah ke Desa Sala. Sebab itu dikehendaki Allah dan nantinya akan menjadi kota yang besar dan makmur,……..”

Tumenggung Tirtowiguna dan Pangeran Wijil kemudian menemui Kepala desa Dusun, bernama Kyai Sala. Saat pertemuan itu Kyai Sala bercerita , kalau ia mimpi ada utusan keraton yang mencari tempat untuk membangun keraton. Ia juga menerima wisik bahwa dusun itu baik, untuk tempat pembangunan keraton. Herannya kok ada persamaan mimpi, maka Tumenggung Tirtowiguna dan Pangeran Wijil segera melaporkan penemua desa Sala untuk lokasi pembangunan Keraton pindahan dari Kartasura, dan sang raja menyetujuinya.

Ketika Sri Susuhunan Paku Buwana II merasa belum berkenan apabila desa Sala yang awalnya penuh dengan rawa itu dijadikan ibukota Kraton ,disuruhnya para bupati pesisir agar menimbuni rawa itu dengan tanaman lumbu, dengan maksud untuk menyumbat sumber air besar yang terus mengalirdi tanah rawa tersebut. Kepala dusun(tetua adat sala waktu itu) Kyai Sala ,menyampaikan usul bahwa untuk dapat menyumbat sumber air besar didaerah rawatersebut, dengan mempergunakan syarat spiritual yaitu : sebuah gong dengan nama sekar delima. Ketika sang raja dilapori tentang syarat wisik gaib dari Kyai Sala yang bunyinya “untuk menghentikan mengalirnya sumber air, engkau harus menutupnya dengan gong merah delima dan kepala penari serta daum lumbu. Maka oleh Sri Sunan diartikan bahwa gong merupakan alat tetabuhan yang be suara paling seru dalam karawitan, maknanya adalah bahwa Kyai Sala sendiri yang menghendaki mas kimpoi gong tersebut , sadangkan kepala penari terkait dengan wayang atau ringgit (bahasa jawa) yang berarti uang. Jelaslah sudah makna gaig tersebut bahwa Kyai Sala menghendaki uang atas tanah halk miliknya, yang akan digunakan untuk Ibukota Kraton Surakarta. Maka Sri Sunan Paku Buwana II memberinya uang sebanyak 10.000 gulden Belanda (1744) untuk tanah milik Kyai Sala yang akan digunakan untuk mendirikan bangunan Karaton baru tersebut

Pindahnya Karaton Kasunanan warisan Mataram dari Kartasura ke desa Sala itu, merupakan bedol Kraton secara total atau menyeluruh, Perpindahan itu dilaksanakan dalam suasana sedih karena Kraton lama Kartasura dirusak oleh pemberontakan Cina. Untuk pindahnya karaton itu, terlebih dahulu para abdi dalem (pegawai )Kraton kasunanan harus membabat hutan belukar , menimbuni rawa di Kedung Lumbu dengan tanah galian dari Tanah Wangi di Kadipolo. Lubang tanah bekas galian itu membentuk danau kecil yang setelah ratusan tahun dijadikan tempat yang bernama Balai Kambang dan Sriwedari. Seluruh bangunan inti Kraton Kasunanan Kartasura diboyong pindah untuk didirikan kembali di desa Sala.Pada waktu itu pagar kompleks karaton masih dibuat dari bambu, secara bertahap bagian-bagian Kraton lainnya seperti Masjid Agung di alun-alun utara pun dibangun oleh generasi Pemerintahan Paku Buwono selanjutnnya, karena keberadaan bangunan tersebut sangat erat kaitannya dengan tata kehidupan Karaton Surakarta hingga kini

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s