Sejarah Pasar Gede

Pasar Gede, salah satu sudut Kota Solo yang masih tersisa sebagai artefak bangunan kota lama dan menjadikan ciri khas peninggalan Kerajaan Mataram adalah Pasar Gede. Situs itu bila dilihat secara komprehensif, baik dari sudut pandang sejarah maupun lanskap tata ruang kota, telah berekspresi memasuki tiga dimensi ruang dan waktu (masa kerajaan, pasca-kolonial, dan kemerdekaan) untuk kepentingan struktur-fungsional pasar.

Secara struktural, bangunan pasar Gede berada pada kesatuan ekologi kultural (situs sakral pasar candi) sebagai bagian dari bangunan njobo keraton (luar kraton), yaitu pasar gede, tugu pemandengan ndalem, gapura gladhag, gapura pamurakan, alun-alun, masjid agung, pagelaran dan siti (hi)nggil. Sementara dikaji secara fungsional memang sejak dahulu juga sudah berfungsi sebagai pasar transaksi model Jawa.

Sebagai peninggalan sejarah, Pasar Gede berhasil menapakkan jejak masa lampaunya pada tiga kategori fakta, yaitu artefak (seni arsitektur bangunannya sendiri), social fact karena pasar sebagai tempat interaksi sosial (gedhe kumandange), dan mantifact melambangkan sakral-magis karena melahirkan konsep dasar pasar candi. Oleh karena itu, Pasar Gede akan senantiasa dikenang sepanjang masa oleh masyarakat Solo karena mengandung nilai memori-kolektif yang melekat di hati rakyatnya.

Pasar Gede merupakan salah satu bangunan gaya arsitektur Jawa-kolonial, karya Herman Thomas Karsten yang juga merancang banyak bangunan di Jawa tengah, termasuk Pasar Johar Semarang. Karsten amat membanggakan Pasar Gede hasil rancangannya. Dan arsitektur Pasar Gede acap kali dikutip oleh banyak peneliti arsitektur asing. Pasar itu pernah terbakar pada tahun 1948 dan selesai dibangun kembali tahun 1954. Pasar Gede merupakan salah satu tujuan wisata, terutama wisatawan domestik. Selain bangunannya terkesan antik, di bagian dalam pasar tradisional ini tampak lega, tertib, dan bersih. Bangunan semacam ini memiliki nilai-nilai filosofi bangunan Jawa, yaitu diantara yang tampak dan yang tidak tampak, ada kandungan tuntutnan hidup. Situs Pasar Gede memang patut digugah kembali karena kandungan sejarahnya sangat kental dengan situs kapujanggan keraton. Pada kawasan 200 meter dan civic center-nya Kota Solo, akan ditemui simbol-simbol budaya kota (Indies atau Indolen) yang mengurai kandungan ekologi lingkungan budaya yang sakral-magis.

Dahulu kala Pasar Gede meruapakan sebuah pasar kecil yang didirikan di area seluas 10.421 hektar. Diberi nama pasar gede karena terdiri dari atap yang besar. Seiring perkembangan waktu, pasar ini menjadi pasar terbesar dan termegah di Surakarta. Pasar Gede terdiri dari dua bangunan yang terpisah. Masing-masing terdiri dari dua lantai. Pintu gerbang di bangunan utama terlihat seperti atap singgasana yang kemudian diberi nama Pasar Gede. Pada tahun 1947, Pasar Gede mengalami kerusakan karena serangan Belanda. Pemerintah Indonesia kemudian merenovasi kembali pada tahun 1949. perbaikan atap selesai pada tahun 1981. Pemerintah mengganti atap yang lama dengan atap kayu. Bangunan kedua dari Pasar Gede, digunakan untuk Kantor DPU yang sekarang digunakan sebagai pasar buah.

Pasar tradisional ini menggabungkan konsep arsitektur Jawa-Eropa buatan 1930. Tjan Sie Ing, seorang Lieutenant de Chinezen, yaitu pimpinan golongan etnis Cina yang diberi legitimasi oleh pemerintah kolonial Belanda sekitar 100 tahun silam. Selain mendapat fasilitas dari Pemerintah Belanda, pimpinan kelompok Cina ini juga mendapat konsensi dari pemerintah keraton Kasunanan Surakarta berupa hak pengelolaan pasar tradisional Hardjonegoro, yang kemudian menjadi Pasar Gede. Pendapatan dari pengelolaan pasar ini dibagi antara pengelola dan pihak keraton.

Pemaknaan atas nilai simbolik Pasar Gede yang berada pada jangkauan civic centre, menandakan bahwa penentuan atas lanskap kawasan Pasar Gede pada skala tata ruang kota (tempo doeloe), tidak main-main nilai kajian futuristiknya. Data sejarah di saat menemukan fakta, bahwa di setiap bekas kerajaan Mataram ditemukan traces ‘sar gedhe’. Sementara itu, nama ‘sar gedhe’ di Solo adalah Hardjonegoro, di Yogya Beringharjo, di Kotagede sendiri, sebagai cikal bakal Keraton Mataraman, juga meninggalkan jejak ‘sar gedhe’. Sehingga memang ‘sar gedhe’ bukan hanya menjadi nama melainkan lebih kepada sebuah konsep.

Ciri khas bangunan pasar gede dapat dilihat pada interior bangunan, dengan struktur benteng lebar dan panjang. Penampilan bangunan merupakan persenyawaan antara bentuk kolonial (dinding tebal, kolom-kolom yang besar, skala bangunan dengan konsep tradisional). Bentuk-bentuk terlihat pada penyelesaian overstek dan jendela/penerangan yang berbentuk lengkung.

(Sumber: Solo Memories, Kota Solo Masa Kolonial, 2003

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s