Dalem Poerwadiningratan

Dalem Purwodiningratan terletak di lingkungan dalam Keratonan, Baluwarti dan merupakan bangunan dalem yang terluas, terbesar dengan pagar tertinggi di lingkungan itu (90m x 100m atau sekitar 1 Ha).

Bangunan ini dibuat oleh Sunan Paku Buwono IV bersamaan dengan dibangunnya Dalem Suryohamijayan dan Dalem Sasonomulyo. Ketika Dalem Poerwadiningratan selesai dibangun, Sinuhun PB IV berkenan untuk mengadakan Lenggah Sinoko (sidang pemerintahan dihadapan para menteri) di bangunan tersebut.

Dalem ini kemudian diserahkan kepada Kanjeng Ratu Pembayun yang dinikahi oleh KGPH Mangkubumi II, kemudian diwariskan kepada KPH Riyo Atmodjo. Putra beliau yang mendapatkan hak waris atas dalem adalah Kanjeng Raden Mas Haryo Purwodiningrat Sepuh dan kemudian pada putranya lagi Kanjeng Raden Mas Tumenggung Haryo Purwodiningrat.

Demikian hingga kawasan ini bernama Poerwadiningratan. (Menurut aturan Jawa, Dalem diberi nama sesuai dengan pemilik terakhir bangunan). Sampai sekarang Dalem Poerwodiningratan dimiliki oleh segenap keluarga keturunan Poerwadiningrat.

Rumah Jawa merupakan pencerminan diri pemilik-nya oleh karena itu seringkali pamor rumah Jawa akan berangsur-angsur turun atau hilang setelah pemiliknya meninggal dunia.

Kanjeng Raden Mas Tumenggung Haryo Poerwodiningrat adalah seorang Bupati Keraton Kasunanan Surakarta yang pernah menjabat sebagai penguasa Sriwedari. Seorang dengan wibawa besar yang tercermin dari dalem yang dimilikinya.

Pengaruh ini dirasakan menurun ketika beliau wafat (sesuai peribahasa Jawa Yen ditinggal Ibu ora kopen ning yen ditinggal Bapak ora kajen). Ini tercermin dari kebiasaan-kebiasaan penghormatan terhadap bangunan yang telah berubah. Misalnya kendaraan yang berlalu-lalang disekitar pendopo atau masuk pendopo tanpa melepas alas kaki.

Pada zaman KRTH Poerwodiningrat, pendatang yang masuk ke lingkungan dalem berjalan kaki bahkan berjalan jongkok di pendopo untuk menghormat. Halaman pendopo ditutup pasir untuk area duduk para abdi dalem yang sowan, dan ada tempat penyimpanan payung-payung untuk para tamu.

Seiring dengan berfungsinya bangunan sebagai kantor Departemen Pertanian dan Kehakiman (1947) kebiasaan ini mulai ditiadakan. Dalem Poerwodiningratan juga pernah digunakan sebagai SMP, SMA, SGA dari Yayasan Pendidikan Tjokroaminoto (sekitar tahun 1950–1960).

Poerwodiningratan juga mempunyai urutan ruang seperti halnya bangunan tradisional Jawa dengan paviliun di sekelilingnya. Paviliun kini ditinggali oleh keluarga Poerwadiningrat.

Dengan dasar (warah/petuah) filosofi dari Sunan Paku Buwono X bahwa “Budoyo Jowo iku ora bedo karo pusoko kadatone, lamun dipepetri bakal hamberkahi nanging lamun siniosio bakal tuwuh haladipun” yang kurang lebih berarti budaya Jawa itu sama dengan pusaka keraton jika dihormati akan memberi berkah, namun jika disia-sia akan memberi hukuman. Untuk itu setiap malam Jumat dalem pringgitan diberi sesajian dengan persyaratan-persyaratan tertentu. Demikian pula pada tanggal 1 bulan Jawa dan setiap tahun pada bulan Sapar untuk memperingati berdirinya bangunan tersebut.

Layaknya bangunan kuno di Jawa, pada bangunan ini sering terjadi hal-hal aneh yang bersifat mistik terutama bila sesajian lupa disajikan di dalam pendopo

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s