Wilayah dan Penduduk

Mengikuti kerajaan Mataram, wilayah Kesultanan Yogyakarta pada mulanya dibagi menjadi beberapa lapisan yaitu Nagari Ngayogyakarta (teritori ibukota), Nagara Agung (teritori utama), dan Manca Nagara (teritori luar). Teritori Nagari Ngayogyakarta meliputi kota tua Yogyakarta (diantara Sungai Code dan Sungai Winongo) dan daerah sekitarnya dengan batas Masjid Pathok Negara. Teritori Nagara Agung meliputi daerah Siti Ageng Mlaya Kusuma (wilayah Siti Ageng [suatu wilayah di antara Pajang dengan Demak] bagian timur yang tidak jelas batasnya dengan wilayah Kesunanan), daerah Siti Bumijo (wilayah Kedu dari Sungai Progo sampai Gunung Merbabu), daerah Siti Numbak Anyar (wilayah Bagelen antara Sungai Bagawanta dan Sungai Progo), daerah Siti Panekar (wilayah Pajang bagian timur, dari Sungai Samin ke selatan sampai Gunungkidul, ke timur sampai Kaduwang), dan daerah Siti Gadhing Mataram (wilayah Mataram Ngayogyakarta [suatu wilayah diantara Gunung Merapi dengan Samudera Hindia]). Seluruh teritori Nagari Ngayogyakarta dan Nagara Agung memiliki luas 53.000 karya (sekitar 309,864500 km persegi).

Teritori Manca Nagara meliputi: (1) Wilayah Madiun yang terdiri dari daerah-daerah: (a). Madiun Kota, (b). Magetan, (c). Caruban, dan (d). setengah Pacitan; Wilayah Kediri yang meliputi daerah-daerah: (a). Kertosono, (b). Kalangbret, dan (c) Ngrowo (Tulung Agung); Wilayah Surabaya yang meliputi daerah Japan (Mojokerto); Wilayah Rembang yang meliputi daerah-daerah: (a). Jipang (Ngawen) dan (b). Teras Karas (Ngawen); dan Wilayah Semarang yang meliputi daerah-daerah: (a). Selo atau Seselo (makam nenek moyang raja Mataram), (b) Warung (Kuwu-Wirosari), dan (c). sebagian Grobogan. Seluruh wilayah Manca Nagara memiliki luas 33.950 karya (sekitar 198,488675 km persegi). Selain itu masih terdapat tambahan wilayah dari Danurejo I di Banyumas seluas 1.600 karya (sekitar 9,3544 km persegi). Wilayah-wilayah Kesultanan tersebut bukan sebuah wilayah yang utuh namun terdapat banyak enclave maupun exclave wilayah Kesunanan dan Mangku Negaran.

Wilayah tersebut merupakan hasil dari Perjanjian Palihan Nagari yang ditandatangani di Giyanti. Perjanjian itu juga disebut Perjanjian Giyanti. Dalam perjalanan waktu wilayah tersebut berkurang akibat perampasan oleh Daendels dan Raffles. Akhirnya setelah Perang Diponegoro selesai pada 1830, pemerintah Hindia Belanda merampas seluruh wilayah Manca Nagara. Pada tahun itu pula ditandatangani Perjanjian Klaten pada 27 September 1830 yang menegaskan wilayah dan batas-batas Kasultanan Yogyakarta dengan Kasunanan Surakarta. Wilayah Kasultanan Yogyakarta hanya meliputi Mataram dan Gunungkidul dengan luas 2.902,54 km persegi. Di wilayah tersebut terdapat enclave Surakarta (Kotagede dan Imogiri), Mangku Negaran (Ngawen), dan Paku Alaman (Kabupaten Kota Paku Alaman).

Pembagian wilayah menurut Perjanjian Palihan Nagari juga diikuti dengan pembagian pegawai kerajaan (abdi Dalem) dan rakyat (kawula Dalem) yang menggunakan atau memakai wilayah tersebut. Hal ini tidak terlepas dari sistem pemakaian tanah pada waktu itu yang menggunakan sistem lungguh (tanah jabatan). Diperkirakan penduduk kesultanan pada waktu perjanjian berjumlah 522.300 jiwa, dengan asumsi tanah satu karya dikerjakan oleh satu keluarga dengan anggota enam orang. Pada 1930 penduduk meningkat menjadi 1.447.022 jiwa.

Dalam strata sosial, penduduk dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu bangsawan (bandara), pegawai (abdi Dalem) dan rakyat jelata (kawula Dalem). Sultan yang merupakan anggota lapisan bangsawan menempati urutan puncak dalam sistem sosial. Anggota lapisan bangsawan ini memiliki hubungan kekerabatan dengan Sultan yang pernah atau sedang memerintah. Namun hanya bangsawan keturunan 1-4 (anak, cucu, anak dari cucu, dan cucu dari cucu) dari Sultan yang termasuk Keluarga Kerajaan dalam artian mereka memiliki kedudukan dan peran dalam upacara kerajaan.

Lapisan pegawai mendasarkan kedudukan mereka dari surat keputusan yang dikeluarkan oleh Sultan. Lapisan ini dibedakan menjadi tiga yaitu pegawai Keraton, pegawai Kepatihan, Kabupaten, dan Kapanewon, serta pegawai yang diperbantukan pada pemerintah penjajahan. Lapisan rakyat jelata dibedakan atas penduduk asli dan pendatang dari luar. Selain itu terdapat juga orang-orang asing maupun keturunannya yang bukan warga negara Kasultanan Yogyakarta yang berdiam di wilayah kesultanan.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s