sejarah Ndalem Kalitan

Sejarah Dalem Kalitan

Surakarta: Dalem Kalitan yang menjadi tempat mantan Presiden Soeharto dan keluarganya beristirahat bila berkunjung ke Surakarta, Jawa Tengah, sempat ramai dikunjungi berbagai kalangan. Terutama ketika Pak Harto menjabat sebagai presiden. Namun, setelah penguasa Orde Baru itu lengser keprabon atau turun dari tampuk kekuasaan pada 21 Mei 1998, Dalem Kalitan menjadi sepi pengunjung, bahkan penjagaannya lebih ketat.
Di atas tanah seluas satu hektare berdiri bangunan tua bergaya limas atau joglo, salah satu ciri khas arsitektur Jawa, khususnya Yogyakarta dan Surakarta. Di Dalem Kalitan itulah tempat peristirahatan Soeharto dan Siti Hartinah Soeharto (Ibu Tien) semasa hidup jika berkunjung ke Surakarta.
Sejatinya, sebelum tahun 1965, pesanggrahan tersebut milik Paku Buwono X yang dihibahkan ke putra bungsunya, Kanjeng Gusti Ratu Alit. Itulah sebabnya pesanggrahan ini diberi nama Dalem Kalitan. Beberapa tahun setelah Pak Harto menjadi presiden, Dalem Kalitan dibeli oleh orang tua Ibu Tien, Kanjeng Pangeran Sumoharyomo.
Kini, dengan penjagaan yang ketat, tak setiap orang dapat memasuki ruang bagian dalam Kalitan. Di situ terdapat tempat-tempat khusus untuk peristirahatan Soeharto dan keluarganya. Sewaktu Pak Harto menjadi presiden dan Ibu Tien belum wafat, Dalem Kalitan kerap dipakai sebagai tempat reuni keluarga besar Cendana.
Memang, Dalem Kalitan menyimpan lembaran sejarah tersendiri. Khususnya bagi Pak Harto dan Ibu Tien. Di sanalah dulu mereka berdua menikmati kehidupan pengantin baru. Dalem Kalitan banyak menyimpan kenangan bagi almarhum dan keluarganya. Selain menjadi tempat peristirahatan juga ajang pertemuan Soeharto dengan berbagai kalangan masyarakat.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)

NDALEM Kalitan begitu populer sebagai rumah Pak Harto di tengah-tengah jantung Kota Solo. Namun sepertinya tak banyak yang tahu sejarah rumah asri berarsitektur Jawa tersebut.

Kepala Rumah Tangga Ndalem kalitan, Sriyanto, pekan lalu kepada okezone menuturkan, tanah dan bangunan seluas 9.000 meter persegi itu dibeli Pak Harto secara kredit pada tahun 1967, saat awal kepemimpinannya sebagai presiden. “Itu dibeli secara kredit oleh Pak Harto dan Bu Tien,” ujarnya.

Awalnya, tanah yang 90 persennya berupa bangunan itu merupakan milik putri tertua Paku Buwono (PB) X, Gusti Ratu Alit, yang kemudian diwariskan kepada tante Bu Tien yang juga masih kerabat kraton. “Baru setelah itu dibeli Bu Tien tadi, daripada jatuh ke tangan orang lain, kan Bu Tien masih kerabat kraton juga dari Mangkunegaran,” jelasnya.

Rumah yang berlokasi di kawasan Kalitan, di tengah pusat kota SOlo itu dibangun sejak tahun 1789 atau 147 tahun yang lalu. Kediaman dengan tembok beton dan gerbang kayu lawas itu masih berarsitektur Jawa kuno. Bangunan utama terdiri dari tiga bagian, yakni pendhapa (ruang depan berbentuk joglo), pringgitan (ruang atau selasar tengah) dan senthong (ruang tidur).

“Sampai sekarang bangunannya masih dipertahankan sejak pertama kali dibangun. Hanya tahun 1990-an saja pernah direnovasi sekali, itu pun hanya mengganti atap saja,” ungkap pria yang akrab disapa Pak Sri ini.

Sementara itu, di halaman depan terbentang taman rumput dan pepohonan yang cukup asri. Beberapa unggas seperti ayam, burung dara dan merak juga tampak tersebar dalam kandang cantik di sekitar taman. Sedangkan di sisi kanan luar gerbang terdapat sebuah pohon beringin besar yang cukup teduh.

Kini Ndalem kalitan yang berlokasi sekira 8 kilometer dari Bandara ini hanya ditinggali oleh Pak Sri dan belasan karyawan. Sejak Pak Harto lengser, keluarga Cendana jarang yang menampakkan diri di Kalitan.

Ndalem Kalitan juga dibuka untuk umum. Setiap harinya ada saja masyarakat yang kebetulan ada kegiatan di Solo datang untuk sekedar melihat rumah mantan penguasa orde baru itu. “Biasanya mereka cukup senang berfoto-foto di pendhapa. Kan ada foto Pak Harto, Bu Tien dan keluarganya,” ujar salah satu tukang kebun Ndalem Kalitan, Sardi bapaknya tawon

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s